Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Legowo Kusumonegoro mengungkapkan, setidaknya ada 3 hal yang harus diketahui masyarakat untuk mempersiapkan masa pensiun yaitu insyaf, irit, dan invest.
“Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai investasi bisa melalui 3 langkah sadar investasi, yaitu insyaf, irit, invest. Dua langkah pertama, insyaf dan irit, merupakan dasar untuk membangun kebiasaan menyisihkan uang,” kata dia dalam siaran pers, Kamis (26/6/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kami percaya bahwa menyiapkan dana untuk masa pensiun tidak akan cukup jika hanya disimpan di tabungan atau deposito saja. Simpanan di tabungan atau deposito akan memberikan imbal hasil yang kecil atau bahkan negatif apabila kita ikut memperhitungkan faktor inflasi. Pemanfaatan solusi investasi seperti reksa dana dapat membuat dana simpanan kita bekerja lebih keras dan memberikan potensi imbal hasil yang lebih tinggi dalam jangka panjang, dan berpotensi mengurangi kemungkinan tetap hidup di saat simpanan dana pensiunnya telah habis,” terang dia.
Lebih jauh dia menjelaskan, Manulife Asset Management mengeluarkan sebuah laporan riset yang mengungkapkan bahwa banyak pasangan menikah di Asia, termasuk di Indonesia, tidak memperhitungkan jumlah waktu yang akan mereka lalui bersama di masa pensiun. Sebagai dampaknya, kemungkinan besar pasangan ini tidak bisa mengumpulkan dana yang cukup untuk masa pensiun.
Laporan ini menyajikan proyeksi durasi masa pensiun dan mengkaji longevity risk (risiko berumur panjang), risiko di mana seorang pensiunan akan kehabisan simpanan dana pensiunnya karena umurnya yang semakin panjang, bagi pasangan menikah di 10 negara Asia seperti Indonesia, Cina, Hong Kong, Jepang, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.
Legowo menyebutkan, laporan hasil riset mengungkapkan bahwa pasangan menikah di Indonesia akan menghadapi masa pensiun gabungan selama rata-rata 25,8 tahun. Dengan kondisi tersebut, dibandingkan dengan negara-negara lainnya di kawasan Asia, Indonesia termasuk dalam kategori negara dengan longevity risk yang lebih rendah. Hal ini terutama disebabkan karena masyarakat Indonesia pensiun dalam usia yang relatif masih muda dan juga karena masyarakat Indonesia memiliki usia harapan hidup yang relatif singkat.
“Penting untuk disadari bahwa setiap orang memiliki kemungkinan 50% untuk hidup lebih lama dari perkiraan waktu rata-rata. Penelitian kami menunjukkan bahwa pasangan menikah di Indonesia dapat mengurangi risiko kehabisan simpanan dana pensiun, karena berumur panjang, secara signifikan dengan dua cara menunda pensiun atau memperhitungkan penambahan enam hingga sebelas tahun dalam perencanaan keuangan mereka,” kata President International Asset Management, Manulife Asset Management Michael Dommermuth menambahkan.
(drk/ang)











































