Sebagai contoh, sewaktu sekolah dulu, Anda pasti pernah punya celengan yang setiap harinya selalu ditabung dari sisa uang jajan. Ketika celengan penuh, Anda pasti dengan semangat memecahkan si celengan lalu menghitungnya satu per satu dan langsung dibelikan mainan atau barang kesukaanmu lainnya.
Tanpa Anda sadari, konsep menabung ini sudah kamu lakukan dari kecil. Nah, sekarang ketika sudah kuliah, Anda bisa loh menggunakan konsep yang sama, tapi bedanya hanya di sarana mengumpulkan uang Anda saja dan karena sarananya yang berbeda, kita tidak lagi menyebutnya dengan menabung, melainkan berinvestasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut paparannya dari Perencana Keuangan ZAP Finance T Rini Triastuti, seperti dikutip detikFinance dari situs resminya, Minggu (26/10/2014)
Ketahui dulu profil risiko. Sebelum Anda memilih instrumen investasi (saham, obligasi, atau reksadana), ketahui terlebih dahulu profil risikomu.
Profil risiko setiap investor itu berbeda-beda, dan bisa menentukan instrumen investasi apa yang sesuai untuk Anda. Perlu diketahui bahwa berinvestasi di pasar modal maupun instrumen investasi lainnya mempunyai risiko, baik risiko penurunan dana investasi maupun kehilangan dana investasi.
Hasil investasi yang lampau bersifat tidak tetap dan bukan merupakan jaminan untuk mencapai investasi di masa yang akan datang. Maka dari itu, jangan sampai Anda terlanjur berinvestasi di saham tapi ternyata profil risikomu menunjukkan tipe konservatif.
Tentukan tujuan investasimu. Setelah Anda mengetahui profil risiko, maka Anda masuk ke tahap mengenal tujuan investasi. Dengan mengetahui tujuan investasi, tentunya akan lebih mudah untuk memilih instrumen yang sesuai. Sebagai contoh salah satu tujuan mahasiswa berinvestasi, yaitu untuk investasi jangka panjang dengan return yang besar, dan investasi bulanan yang kecil.
Kenali instrumen investasi. Instrumen investasi yang beredar di pasar meliputi logam mulia, properti, deposito, saham, obligasi, dan reksadana. Instrumen investasi yang paling memungkinkan untuk kantong mahasiswa adalah reksadana.
Kenapa? Karena instrumen ini dikhususkan bagi Anda yang memiliki modal yang relatif sedikit dan masih awam akan dunia investasi serta tidak mampu menanggung risiko terlalu besar, maka reksadana bisa jadi lebih menguntungkan. Cukup dengan Rp 100 ribu per bulan, Anda sudah memiliki saham dan obligasi walaupun secara kolektif.
Komitmen untuk disiplin. Ketika Anda memutuskan untuk berinvestasi, satu hal yang harus Anda pertahankan yaitu kedisiplinan. Karena tanpa kedisplinan, tujuan investasimu hanyalah akan menjadi tujuan semata.
Biasakan disiplin investasi dan menabung dari kamu kuliah ya, dimulai dari uang jajan agar nanti ketika Anda sudah bekerja dan bisa memiliki uang sendiri, Anda tidak akan kesusahan lagi untuk membangun kedisiplinan berinvestasi.
(drk/hen)











































