Follow detikFinance
Rabu 15 Jul 2015, 09:40 WIB

Portofolio Saham Makin 'Gemuk', Apa Solusinya?

Ellen May - detikFinance
Portofolio Saham Makin Gemuk, Apa Solusinya?
Jakarta - Kemarin saya menjawab pertanyaan dari seorang rekan tentang konsultasi portofolio. Seperti biasa ketika melakukan check up portofolio saya menjumpai ada banyak saham yang jumlahnya kecil-kecil.

Ada yang untung, ada yang rugi sedikit, ada pula yang rugi besar. Tapi kebanyakan rugi karena kala sudah untung biasanya tidak akan dikonsultasikan.

Hal ini wajar sebagai seorang pemula di level 'Toddler' sampai 'Teenager' (baca artikel Tahapan Trader Sukses). Mengapa?

Karena secara psikologis, sebagai pemula seringkali merasa tidak yakin alias ragu-ragu. Jadinya beli saham sedikit-sedikit namun sering, masih coba-coba. Ketika ada saham yang naik, biasanya akan segera langsung ambil untung karena senang luar biasa.

Ketika ada yang turun, sebaliknya tidak dibatasi namun malah dibiarkan saja dengan sebuah belief "ahh nanti juga naik lagi kok."

Iya sih, kalau Anda melanggar peraturan lalu lintas sekali atau dua kali, mungkin belum terasa akibatnya. Baik-baik saja, tidak terjadi kecelakaan, tidak kena tilang pak polisi. Namun suatu saat pasti juga akan menuai akibatnya jika terus melanggar.

Nah di pasar yang bullish atau trend naik, kebiasaan mengoleksi saham terus menerus, suka beli saham dan lupa jual (terutama bagi yang rugi) mungkin tidak terlalu berdampak.

Namun lain halnya jika pasar bullish (trend naik) itu berbalik menjadi bearish (trend turun), maka akan banyak saham yang rugi semakin besar. Semakin besar, nyangkut, seperti penyakit yang komplikasi.

Ditambah lagi jika ada tradingan saham gorengan yang dengan mudah berbalik arah dari naik menjadi turun dan menghempaskan trader-trader ritel langsung ke titik terendah tanpa bisa menjual sahamnya sama sekali.

Saya pun pernah berada di level tersebut bapak-ibu! Saya pernah berada di tahap 'Toddler' sampai 'Teenager'. Waktu itu portofolio saya tidak menjadi bertumbuh (portfolio growth) tapi melebar dan menggendut (growing portfolio) seperti yang saya ceritakan di buku Smart Traders Not Gamblers.

Waktu itu, portofolio saya mengalami obesitas, sampai akhirnya saya mengambil keputusan untuk melakukan diet saham, yaitu dengan tega membuang saham-saham 'busuk'.

Ya, benar! Strategi pertama adalah membuang saham busuk, saham yang secara teknikal trend nya paling buruk, secara fundamental juga tidak ada harapan. Biasanya yang masuk kriteria ini adalah saham-saham gorengan atau saham lapis 3.

Jika fundamental bagus bagaimana? Terkadang sebuah saham dengan fundamental bagus mengalami terpaan badai juga. Namun biasanya dikarenakan oleh faktor eksternal, bukan faktor internal perusahaan.

Misalnya UNVR yang pernah merosot karena sentimen royalti naik. Namun setelah kekhawatiran tentang royalti berlalu, harga sahamnya naik lagi. Namun, jangan diulangi lagi yah kesalahan yang serupa. Kalau sudah berencana trading jangka pendek, siapkan dulu planning Trading Profits-nya, termasuk level pembatasan risiko.

Setelah membuang saham busuk bagaimana? Strategi kedua adalah, memperbaiki transaksi yang baru! Beli HANYA ketika muncul momen terbaik pada pasar.

Kapan momen terbaik itu? Momen terbaik bagi setiap orang berbeda-beda, tergantung dengan tujuan dan pilihan strategi.

Bagi trader momen terbaiknya adalah ketika:

  1. Terjadi breakout (tren naik), maka saham yang bagus menurut strategi ini yah yang mengalami breakout secara teknikal dengan tren naik.
  2. Terjadi koreksi tajam, maka saham yang bagus menurut strategi ini adalah yang menunjukkan potensi reversal yang kontras (didahului turun tajam).

Bagi long term investor, momen terbaik adalah ketika terjadi diskon super ekstravaganza pada saham-saham berfundamental bagus, yang datang hanya 5 sampai 10 tahun sekali.

Intinya, beli pada momen terbaik. Maksudnya bagaimana? Maksudnya kalau belum muncul momen terbaik (sesuai pilihan strategi Anda), ya jangan beli!

You only have to do few things right so long as you dont do as many things wrong. Ini adalah wisdom dari kakek buyut Warren Buffett.

Meskipun Buffett adalah seorang long term investor, tapi wisdom dan filosofinya beberapa bisa digunakan untuk trader juga (dalam rentang waktu yang berbeda). Saya melakukannya, dan sejak saat itu performa trading jauh lebih baik.

“Kalau gitu saya jadi jarang trading dong?” Pilih mana saudara-saudara, sering beli saham tapi untung tidak konsisten, atau jarang beli saham, sekali beli dalam ukuran lebih besar, dan untung lebih nendang?

Saya pilih strategi terkonsentrasi ini. Jarang beli, tapi sekali beli adalah yang terbaik, dengan porsi yang lebih besar.

Dulu tangan saya usil, setiap hari harus beli saham, jualnya bingung. Tapi sekarang saya jarang trading.

Jadi dalam 2 bulan lebih hanya ada 4 transaksi saja. Nggak seru yah, iya nggak seru, tapi yang penting kita harus besar tiang daripada pasak selalu ada hasil.

Bapak-ibu, kita tidak pernah bisa 100% benar. Salah menganalisis itu wajar, semua trader pasti ada rugi, seperti biaya operasional. Namun biaya operasional itu hendaknya tidak lebih besar daripada profit.

Tentunya, untuk mencapai level ini, diperlukan banyak latihan untuk menganalisis dan penguasaan strategi terlebih dahulu. Bagi pemula, gunakan nominal kecil sampai periode 1 tahun, anggap latihan. Jika dalam setahun sudah konsisten kemudian baru boleh tambahkan dana lagi agar profit semakin besar dan konsisten.

Ingat, Anda tidak perlu melakukan banyak hal untuk menjadi berhasil. Anda hanya perlu memukul 1 bola dan home run!

Kesimpulan :

  1. Jika mengalami fenomena portofolio gendut, ayo diet! Buang saham busuk terlebih dahulu!
  2. Beli yang terbaik saja sesuai strategi yang Anda pilih. Kalau tidak paham strategi? Belajar! Kalau tidak mau belajar, investasinya di reksa dana saja jangan di saham.
  3. Jangan beli saham lagi jika ada 3 saham rugi, bereskan dulu!
(ang/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed