Follow detikFinance
Kamis 10 Sep 2015, 12:39 WIB

Memilih Investasi Menguntungkan Saat Ekonomi Lesu

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Memilih Investasi Menguntungkan Saat Ekonomi Lesu Ilustrasi (Foto: Rachman/detikFoto)
Jakarta - Memilih investasi yang tepat bukan perkara mudah. Berbagai instrumen investasi ditawarkan mulai dari saham, obligasi, reksa dana, deposito, emas, dan lain-lain.

Saat perekonomian lesu yang juga membuat pasar saham anjlok, investor bingung harus menempatkan dananya.

Saat reksa dana saham atau campuran yang berbasis pada saham kinerjanya merosot, reksa dana pasar uang mungkin bisa jadi pilihan.

Investor yang ingin menempatkan uangnya dalam jangka pendek atau maksimal 1 tahun, tentu tidak ingin mengambil risiko nilai investasinya tergerus gara-gara pasar saham anjlok.

Sementara jika ditempatkan di tabungan tidak akan mendapatkan keuntungan, bunga yang didapat hanya 2-3% per tahun, belum lagi dipotong biaya administrasi.

Reksa dana pasar uang mungkin bisa jadi pilihan, dengan rata-rata imbal hasil atau return 6-7% per tahun, bisa dimanfaatkan untuk investasi jangka pendek.

"Ada produk BNI-AM Dana Kemilau Pasar Uang, itu based-nya full deposito, return 6-7% setahun, itu kan kalau di deposito mau dapat special rate baru bisa dapat di atas Rp 500 juta, di tabungan hanya 2,5% setahun, jadi mending reksa dana pasar uang," jelas Sales Marketing BNI Asset Management Fandra saat ditemui detikFinance, di Indonesia Banking Expo (IBEX) 2015, di JCC, Senayan, Kamis (10/9/2015).

Dia menyebutkan, dengan minimal Rp 100.000, masyarakat sudah bisa membeli reksa dana pasar uang.

"Kalau punya iddle cash untuk dipakai paling tidak setahun ya cocok ditaruh di pasar uang ini. Return 6-7% nanti diambil pas setahun," katanya.

Sementara untuk reksa dana saham, Fandra menyebutkan, memang saat ini kondisinya sedang lesu. Untuk produk BNI-AM Inspiring Fund secara year to date sudah minus 8%.

"Ini juga bisa Rp 100.000 tapi memang yang saham lagi turun ya. Sudah minus 8%, tapi masih lebih baik, ada yang sampai 12%," sebut dia.

Meski demikian, lanjut Fandra, reksa dana saham ini cocok untuk investasi jangka panjang. Saat pasar saham anjlok seperti saat ini, harusnya bisa dimanfaatkan untuk mulai investasi.

Karena, kata dia, rata-rata imbal hasil reksa dana saham cukup besar, bahkan bisa sampai 30% setahun.

"Reksa dana saham kita BNI-AM Dana Berkembang itu pernah 30%, itu memang sahamnya yang small-medium cap jadi naik dan turunnya bombastis, kalau naik tinggi banget, turun juga begitu. Sekarang saja sudah minus 18%," sebut dia.

Sedangkan untuk reksa dana pendapatan tetap ada BNI-AM Dana Berbunga Tiga. Rata-rata imbal hasilnya 8% per tahun. Namun, saat ini kondisinya lagi merosot.

"Ini juga bisa Rp 100.000. Pendapatan tetap setahun 8% tapi sekarang obligasi lagi jatuh," katanya.

BNI-AM Dana Terencana atau reksa dana campuran milik BNI juga mencatat kinerja negatif. Hingga saat ini sudah mencatat minus 7,90%.

"Ini juga Rp 100.000. Return rata-rata 15% per tahun. Untuk bisa beli reksa dana syaratnya mudah cukup fotokopi KTP, NPWP, materai 1 lembar Rp 6.000 dan isi formulir," imbuhnya.

(drk/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed