Follow detikFinance
Kamis 22 Sep 2016, 12:36 WIB

Tips Memilih dan Membeli Saham IPO

Ellen May - detikFinance
Tips Memilih dan Membeli Saham IPO Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - "Kita pesan IPO yuk. Biarpun dapatnya sedikit, kita bisa untung 3–5% sebulan lho."

"Kita ikut IPO yuk, terus kita jual lagi di hari pertama perdagangan. Untungnya bisa 10-30% lho, bahkan lebih."

Pendapat di atas sering dilontarkan para investor/trader yang hobi mengoleksi saham IPO. Saham IPO yang sering mengalami lonjakan harga pada hari pertama perdagangan memang memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pelaku pasar modal.

Tapi, apakah benar saham IPO selalu menjanjikan keuntungan? Bagaimana cara memilih dan membeli saham IPO yang baik?

Sebelum kita bahas lebih lanjut, kita cari tahu pengertian IPO dulu yuk.

Apa itu IPO?

IPO (Initial Public Offering) adalah saham dari suatu perusahaan yang baru diterbitkan dan dijual untuk pertama kalinya kepada publik. Karena itu perusahaan yang melakukan IPO sering disebut "Go Public".

Apa tujuan sebuah perusahaan membuat IPO?

Sebuah perusahaan melakukan IPO untuk mendapat dana segar! Dana segar yang diperoleh perusahaan saat IPO ini biasanya akan digunakan untuk ekspansi atau membayar utang perusahaan yang akan jatuh tempo.

Banyak orang beranggapan kalau trading saham IPO bisa memberi profit puluhan-ratusan persen dalam sehari. Namun kalau kita perhatikan, sebenarnya trading saham IPO tidak bisa menjamin "instant profit overnight". Jika Anda lihat catatan historis di bursa, ada juga saham-saham IPO yang turun saat hari pertama listing.

Bagaimana cara memilih saham IPO yang potensial profit?

IPO memang bisa memberi peluang profit bagi investor. Tapi kenyataannya tidak semua saham IPO seperti itu. Ada juga saham IPO yang menanjak pada hari pertama pencatatan saham, namun pada hari-hari berikutnya,saham tersebut dilanda aksi jual dan tak mampu bangkit lagi, alias menjadi saham tidur. Nah, kalau sudah begini, dapat dipastikan investor akan merugi.

Untuk menghindari saham IPO "bodong", ada beberapa ciri khusus yang perlu diwaspadai oleh investor. Ciri pertama bisa dilihat dari aksi korporasi. Misalnya saja, pada saat mendapatkan dana baru dari IPO, perusahaan tidak menggunakan dana tersebut sesuai dengan prospektus.

Ciri lainnya, bisnis dan nama perusahaan tidak jelas dan tidak pernah didengar sebelumnya. Ini adalah ciri saham IPO yang berbahaya. Salah satu cara untuk mencari kejelasan sebuah perusahaan adalah dengan mengecek langsung alamat perusahaannya. Jangan-jangan kantornya hanya berupa ruko atau garasi depan rumah saja. Ini yang patut dicurigai.

Apa yang harus dilakukan trader sebelum memilih dan membeli saham IPO?

Seorang trader umumnya menilai kinerja suatu saham dengan melihat grafik histori harga saham. Sedangkan saham IPO yang baru saja melantai tidak punya historis harga. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk menilai saham IPO adalah dengan analisa fundamental dan mencari berbagai informasi yang penting.

Informasi tentang saham IPO bisa Anda dapatkan dari prospektus dan riset-riset terkait. Biasanya prospektus/laporan keuangan tersebut dimuat di media cetak. Berikut ini adalah beberapa indikator penting yang bisa Anda gunakan untuk menilai saham IPO:

1. Berapa banyak saham yang dilepas?
Anda harus mengetahui terlebih dulu berapa banyak porsi saham yang akan dilepas. Jika saham yang dilepas porsinya sedikit, Anda patut waspada karena bisa jadi saham ini tidak likuid.

Lain halnya jika porsi saham yang ditawarkan besar. Biasanya kalangan pemodal lebih suka saham seperti ini karena likuiditasnya tinggi.

2. Bagaimana track record penjamin emisi/ underwriter-nya?
Investor perlu memperhatikan track record penjamin emisi calon emiten. Investor disarankan gencar mencari tahu catatan kinerja dari penjamin emisi tersebut saat melakukan penawaran saham. Sukses tidak pelaksanaannya? Kelebihan permintaan (oversubscribe) atau tidak? Kalau banyak permintaan, berarti bagus.

Selain itu, perhatikan pula track record penjamin emisi pasca listing. Jika harga saham emitennya terus menanjak, dapat diartikan penjamin emisi tersebut memiliki strategi yang cukup baik dalam menangani IPO.

3. Bagaimana laporan keuangannya?
Jangan sampai Anda membeli kucing dalam karung. Maksudnya, Anda harus mengetahui emiten saham IPO tersebut bergerak pada sektor apa, memperhatikan laporan keuangannya dalam tiga tahun terakhir, serta membandingkan kinerja calon emiten dengan perusahaan lain yang sejenis.

Ada beberapa indikator yang dapat dilihat seperti price earning ratio (PER), price book value (PBV), serta net asset value (NAV). Semuanya tergantung dari sektor emiten yang terkait.

Sebaiknya Anda memilih saham IPO perusahaan yang grup-nya sudah eksis, terpercaya, dan jelas bisnisnya. Misalnya saja, jika saham IPO itu tergabung dalam kelompok Astra yang bisnisnya terkenal mumpuni di Indonesia, Anda bisa menanam kepercayaan Anda di sana.

Selain itu, Anda juga bisa melihat dari valuasi harga sahamnya. Hal ini bisa dilihat dari nilai price earning ratio (PER) perusahaan tersebut. Jika PER-nya tinggi disertai dengan pertumbuhan kinerja yang baik, itu bagus. Tapi kalau PER-nya tinggi namun growth -nya rendah, ini patut Anda dipertanyakan.

Bagi Anda yang belum tahu, PER merupakan perbandingan antara harga saham dengan laba bersih perusahaan. Informasi ini bisa didapatkan dari laporan keuangan calon emiten. Semakin tinggi PER, semakin mahal pula harga sahamnya.

4. Siapa saja peminatnya?
Dalam memilih saham IPO, Anda juga perlu memperhatikan siapa saja peminat sahamnya. Jika hanya diminati oleh investor domestik, hal itu bisa menjadi sinyal bahwa saham tersebut kurang menarik. Lain halnya jika investor asing turut memburu saham IPO tersebut, di mana mereka melihat ada sesuatu yang berpotensi terhadap kinerja emiten.

Nah, kalau Anda sudah tahu bagaimana cara memilih dan menilai saham IPO yang baik, Anda tentu sudah bisa menyusun pertimbangan matang dalam membeli IPO. Jika Anda memang memutuskan untuk membeli, berikut ini saya berikan juga tips untuk membeli saham IPO:

Tips Pertama, belilah saham IPO dari penjamin emisi/ underwriter-nya. Kenapa begitu? Sebab, biasanya, para penjamin emisi akan mengutamakan nasabahnya. Jika saham IPO-nya bagus, maka pihak penjamin emisi akan menjual saham tersebut dengan selektif. Jadi, jangan kaget jika tiba-tiba Anda kesulitan untuk memesan dan hanya berhasil mendapat sahamnya dalam volume kecil.

Tips Kedua , silakan trading saham IPO saat tren pasar sedang naik. Apa alasannya? Jika Anda melihat catatan historis di bursa, saham IPO dengan fundamental bagus bisa tetap merosot hanya karena ia release saat trend pasar sedang turun. Naik/turunnya saham IPO sangat dipengaruhi oleh daya beli trader dan investor saat itu. Karena itu, tetap perhatikan tren pasar ya!

Demikian penjelasan singkat saya tentang IPO. Semoga mencerahkan dan selamat trading!
Salam profit (ang/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed