Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama dengan DSN MUI juga semakin mempermudah dengan terus memperbaharui DES. Sebab selain syarat berdasarkan jenis usahanya yang tidak boleh mengandung barang haram dan riba, emiten yang masuk dalam DES juga dilihat dari laporan keuangannya.
Emiten yang sahamnya masuk dalam kriteria saham syariah total utang berbasis bunga dibandingkan dengan total ekuitas tidak lebih dari 82%. Kemudian juga rasio utang terhadap total aset tidak boleh lebih dari 45%. Namun apakah persyaratan tersebut membuat kinerja dari emitennya cemerlang?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Reza mengatakan, kecilnya rasio utang memang mencerminkan kecilnya beban dari perseroan. Namun harus dilihat juga pertumbuhan dari laba bersihnya.
"Apakah pertumbuhan pendapatan, laba bersih dan kotornya mendungkung rasio utang itu sehingga masih bisa tercover. Jadi misalnya DER (debt to equity ratio) 3-4 kali tapi pertumbuhannya mines atau hanya 1-2% saja ya percuma," terangnya kepada detikFinance, Senin (10/4/2017).
Selain itu, Reza juga mengimbau agar melihat industri dari emiten itu sendiri. Sebab meskipun kinerja emitennya sedang cemerlang namun secara industri terpuruk, maka emiten itu juga berpotensi akan terkenda dampaknya.
"Kemudian lihat juga track record-nya. Kalau DER-nya dia kecil tapi karena bolak balik melakukan restrukturisasi atau utang lagi untuk menutupinya maka ini juga masalah," tambahnya.
Sebagai contoh, saham syariah yang menguntungkan adalah PT Astra Internasional Tbk (ASII) yang membukukan pertumbuhan laba di 2016 sebesar 5% menjadi Rp 15,2 triliun dengan DER 0,87 kali.
Selain itu ada saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang mampu meraup pertumbuhan laba bersih di 2016 sebesar 9,2% menjadi Rp 6,4 triliun dengan DER 1,64 kali. (ang/ang)











































