Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 12 Nov 2018 12:15 WIB

Dolar AS Kembali Meroket, What To Do?

Ellen May - detikFinance
Foto: Istimewa Foto: Istimewa
Jakarta - Kenapa US$ Naik Lagi? Akankah US$ Mencapai 17000?

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah kembali melanjutkan penguatan. Setelah berhasil berbalik menguat pada penutupan perdagangan akhir pekan kemarin, Senin pagi ini nilai tukar mata uang Paman Sam tersebut naik ke level Rp 14.735.

Sebelumnya, dolar AS sempat tembus Rp 15.200-an. Nilai tukar tersebut telah melampaui level psikologisnya dan terendah sejak krisis moneter dua dekade silam.

Lalu apa yang menyebabkan pelemahan rupiah ini?
Penyebab pelemahan rupiah salah satunya adalah akibat dari peningkatan sentimen terhadap aset negara-negara berkembang dan melonjaknya harga minyak dunia.

Kenaikan suku bunga AS, harga minyak yang bisa membuat defisit neraca perdagangan melebar, dan penguatan dollar AS dalam beberapa hari terakhir, Bank Indonesia pun kesulitan untuk menjaga nilai tukar
rupiah di angka Rp 15.000.

Dilihat secara teknikal, Setelah break out dari titik resisten sebelumnya di level 15000, secara Monthly US dollar akan bergerak naik menuju level 16000 - 17000.

Bagaimana Dampak Terhadap IHSG, dan Apa Upaya Pemerintah?
Pelemahan rupiah ini dapat berdampak negatif terhadap pergerakan IHSG. Dan di bulan Oktober ini, seperti yang sering saya sebut dalam webinar maupun tulisan-tulisan saya sebelumnya, berpeluang menjadi bulan bottom, dilanjutkan bulan November yang volatil, dan Desember Januari yang mulai menanjak.

Berbagai usaha pemerintah sudah dikeluarkan, salah satunya menaikkan BI 7 Day Reverse Repo Rate sampai 150 basis poin (bps) sejak awal tahun.

Dengan kenaikan suku bunga acuan, diharapkan pasar keuangan Indonesia menjadi lebih menarik.

Sebab, kenaikan suku bunga acuan akan ikut meningkatkan imbalan investasi, utamanya di instrumen berpendapatan tetap. Selain itu pemerintah juga kembali menggali dana dari masyarakat.

Sebelumnya pemerintah sudah saving bond ritel seri 4 (SBR004), kemudian pemerintah menawarkan instrumen serupa yakni obligasi negara ritel (ORI) seri ORI015 yang dimulai 4 Oktober hingga 25 Oktober 2018. ORI terbaru menawarkan kupon bunga sebesar 8,25%, lebih tinggi daripada SBR004 yang memberikan imbalan minimal 8,05%.

Selain kupon yang menarik, keunggulan ORI adalah dapat diperdagangkan di pasar sekunder.

Jadi, investor ritel juga berkesempatan mendapatkan capital gain ketika menjual instrumen tersebut di pasar sekunder.

Langkah itu cukup berhasil, setidaknya menjaga agar modal asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) tidak keluar. Sejak awal tahun hingga 28 September, bahkan investor asing mencatatkan beli
bersih Rp 13,82 triliun.

October Effect?
Pada artikel sebelumnya kita sudah membahas tentang October effect, Sebenarnya, October Effect merupakan salah satu fenomena dari calender effect, yang biasanya selalu terjadi berulang-ulang setiap tahun. "October Effect" adalah istilah yang digunakan untuk menyebut penurunan harga saham yang kerap kali terjadi dalam rentang waktu bulan September - Oktober.

Dalam beberapa teori, October Effect biasanya akan membuat indeks bursa saham cenderung bergerak turun pada bulan Oktober. Hal ini juga sudah terbukti pada berbagai fenomena koreksi saham, seperti Black Monday, Black Tuesday, dan Black Thursday yang semuanya terjadi pada bulan Oktober 1929. Peristiwa itu kemudian diikuti oleh depresi ekonomi hebat di seluruh dunia (Great Depression).

Sehingga tidak heran, banyak sekali para investor yang menghubungkan fenomena ini dengan hari Halloween, dan menganggap bulan Oktober sebagai bulan yang "menyeramkan".

Hal ini wajar saja, lantaran biasanya memasuki bulan Oktober, IHSG kerap kali mencapai level bottomnya. Hal ini tentunya sangat dinantikan oleh para investor, untuk memborong saham di harga bawah.

Apalagi, usai bulan Oktober, biasanya harga saham akan mulai mengalami rally, yang didukung dengan berbagai fenomena positif lainnya, seperti santa claus rally, window dressing, desember effect dan januari effect.
Lalu apa yang harus kita lalukan sebagai investor dan juga trader saham?


What To Do?
Bulan oktober ini adalah momen yang tepat untuk koleksi beberapa saham berfundamental bagus dan sedang terdiskon. Mengapa demikian?
Karena bulan Oktober biasanya akan menjadi bulan bottom bagi IHSG. Fenomena ini sudah dibuktikan dari pergerakan IHSG pada periode 2001-2012, dimana setiap tahun IHSG selalu mengalami kenaikan (rally) dari awal November hingga akhir tahun, dengan kenaikan rata-rata mencapai 8,7%.

Oleh karena itu, jika Anda sudah mengetahui bahwa bulan Oktober ini bisa menjadi bulan dimana IHSG akan mencapai level terendahnya dalam 1 tahun terakhir. Anda dapat manfaatkan untuk mulai koleksi saham-saham bluechips seperti UNVR, INDF, BBRI, GGRM, HMSP dan lain-lain yang sudah terdiskon cukup besar Salam profit, Ellen May Institute. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com