Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 17 Jul 2019 11:46 WIB

AS dan China Mulai Akur, Saatnya Beli Reksa Dana Obligasi

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Muhammad Ridho Foto: Muhammad Ridho
Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping telah bertemu saat perhelatan G20. Pertemuan itu ditanggapi sebagai sinyal meredanya ketegangan di antara kedua negara ekonomi terbesar di dunia itu.

Menurut Senior Portfolio Manajer Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Syuhada Arief para pelaku pasar cukup menanggapi positif hasil pertemuan itu. Apalagi negosiasi antar kedua negara itu berlanjut.

"Pemerintah Amerika Serikat juga setuju untuk mengendurkan restriksi bisnis terhadap perusahaan telekomunikasi China. Perkembangan ini mengindikasikan tensi antara kedua negara sedikit mereda, sehingga diharapkan negosiasi ke depannya bisa dilakukan dengan kepala dingin dan dapat lebih membuahkan hasil positif," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (17/7/2019).

Memang, dengan ditundanya pengenaan tarif lanjutan oleh AS terhadap produk China sebesar US$ 300 miliar memperpanjang ketidakpastian. Menurut Syuhada negosiasi memang merupakan hal yang dinamis dan apa saja dapat terjadi.

"Ekspektasi kami sejak perang dagang ini dimulai adalah negosiasi akan terjadi berkepanjangan. Saat ini ekspektasi pasar telah beralih mengarah ke pandangan ini dan sudah mengantisipasi bahwa hanya ada kemungkinan kecil kalau kesepakatan tercapai dalam waktu dekat," tambahnya.




Oleh karena itu, apabila negosiasi dagang kembali memanas, dia memperkirakan pasar tidak akan lagi terlalu terkejut seperti yang terjadi di bulan Mei lalu. Sebab ekspektasi pasar sudah sangat rendah.

Syuhada juga memperingkatkan bahwa sekitar 16 bulan lagi AS menggelar pemilu. Tentunya negosiasi dagang dengan China akan menjadi resolusi bagi Trump untuk kembali mencalonkan diri. Dengan begitu AS saat ini diyakini akan menghindari terjadinya eskalasi perang dagang besar-besaran.

Sementara dari sisi ekonomi global memang terjadi penurunan pertumbuhan, terutama di sektor manufaktur dan perdagangan. Namun menurutnya terlalu dini untuk menyimpulkan kondisi ini sebagai sinyal akan terjadinya resesi global.

Saat ini berbagai bank sentral global sudah merubah arah kebijakannya dan bersikap lebih akomodatif untuk menopang pertumbuhan ekonomi. The Fed, Bank Sentral Eropa, Bank Sentral Jepang menyatakan tidak akan ragu-ragu untuk menurunkan suku bunga atau melakukan kebijakan lainnya untuk membantu menopang pertumbuhan ekonomi.

Oleh karena itu, Syuhada menilai masih ada potensi penguatan lanjutan di pasar obligasi Indonesia yang hingga akhir Juni sudah mengalami penguatan 8,21%. Iklim pasar finansial saat ini sangat suportif bagi pasar obligasi domestik.

"Kebijakan The Fed mengarah lebih akomodatif, adanya potensi penurunan suku bunga Bank Indonesia, dan kenaikan peringkat kredit Indonesia dari S&P merupakan faktor-faktor yang positif bagi pasar obligasi Indonesia. Selain itu saat ini sekitar 29% dari obligasi di dunia (sekitar US$ 12,5 triliun) berada pada level imbal hasil negatif," terangnya.

Kondisi tersebut berpotensi mendorong global yield hunt, di mana investor akan mencari investasi yang masih menawarkan imbal hasil positif. Pasar obligasi Indonesia dapat diuntungkan dari situasi ini karena obligasi Indonesia menawarkan imbal hasil yang tinggi.




Belum lagi kondisi makroekonomi Indonesia juga suportif, di mana nilai tukar rupiah bergerak stabil, dan kondisi politik pasca pemilu juga sudah lebih tenang. Gabungan semua hal tersebut menciptakan iklim yang sangat kondusif bagi pasar obligasi domestik.

"Kesimpulannya, kami memandang masih ada upside potential untuk pasar obligasi Indonesia ke depannya," tekannya.

Syuhada menyarankan akan memilih reksa dana obligasi ketimbang membeli obligasi secara langsung. Menurutnya ada beberapa keunggulan berinvestasi di reksa dana obligasi seperti minimum investasi di reksadana obligasi relatif terjangkau.

"Hanya dengan Rp 100 ribu investor bisa mulai berinvestasi di reksa dana obligasi. Sementara untuk membeli obligasi secara langsung dibutuhkan minimum investasi yang jauh lebih besar," tambahnya.

Kemudian secara pengelolaan dilakukan secara aktif. Reksa dana obligasi dikelola oleh tim manajer investasi yang profesional dengan strategi pengelolaan aktif. Pengelolaan aktif artinya manajer investasi dapat merubah posisi lebih agresif atau lebih konservatif sesuai dengan outlook dan kondisi pasar terkini.



Simak Video "Jokowi Antisipasi Dampak Perang Dagang AS-China"
[Gambas:Video 20detik]
(das/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com