Saham Emiten Rokok Rontok Berjamaah Usai Cukai Naik 10%, Masih Bisa Cuan?

ADVERTISEMENT

Saham Emiten Rokok Rontok Berjamaah Usai Cukai Naik 10%, Masih Bisa Cuan?

Ilyas Fadilah - detikFinance
Senin, 07 Nov 2022 07:29 WIB
Harga rokok dipastikan naik tahun depan. Kenaikan ini menyusul kebijakan pemerintah menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) sebesar 10% pada 2023 dan 2024.
Foto: Dok. detikcom
Jakarta -

Saham emiten rokok terkena sentimen negatif usai kenaikan Cukai Hasil Tembakau (CHT). CHT atau cukai rokok naik 10% untuk 2023 dan 2024.

Sehari setelah diumumkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Sejumlah saham seperti Sampoerna, Gudang Garam, Wismilak Inti Makmur dan Indonesia Tobacco kompak memerah. Lantas, bagaimana prospek saham emiten rokok kedepannya?

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, kenaikan CHT akan menekan saham emiten rokok. Apalagi, dunia dihadapkan pada tantangan resesi pada 2023.

"Biasanya sih industri rokok setiap kali kenaikan dia bisa melaluinya, dengan menaikan harga kepada konsumen. Tapi tentu kali ini agak sedikit ada masalah gangguan, karena dunia itu memasuki periode resesi," katanya kepada detikcom, dikutip Senin (6/11/2022).

Adanya ancaman krisis membuat masyarakat akan mengerem konsumsi rokok mereka. Hal inilah yang menjadi tantangan, dan menyebabkan saham-saham rokok mayoritas terkoreksi turun.

"Kan kalau resesi ada peluang orang mengurangi konsumsi. Jadi industri rokok pasti kena. Kalau tidak ada resesi kenaikan cukai itu bisa di-through pas kepada konsumen dengan menaikkan harga. Tapi kalau sekarang emiten rokok nggak bisa cepat," ungkapnya.

Terkait apakah saham rokok masih bisa memberi cuan, Hans mengungkapkan nada pesimis. Ia menyarankan tidak investasi di saham rokok dan memantau perkembangannya hingga tahun depan.

"Tentu sekarang negatif ya posisinya better sih investor jangan ambil industri rokok dulu sementara. Tentu melihat perkembangan sesudah cukai naik apa ada dampak signifikan ke perusahaan. Tahun depan kita lihat posisinya seperti apa," ujarnya.

Hans bahkan menyarankan investor yang sudah masuk ke saham emiten rokok untuk keluar. Pasalnya saham-saham rokok mulai menurun.

Alternatifnya investor bisa beralih ke saham emiten energi. Kondisi Eropa yang mulai masuk musim dingin diprediksi memberikan dampak positif.

"Kalau bisa keluar dulu ke investasi lain. Sekarang kan musim dingin ya di Eropa mulai masuk musim dingin. Komoditas kemungkinan masih akan cukup bagus. Ini bisa menjadi pilihan rokok yang harus keluar dulu," pungkasnya.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT