Main Saham, Siapa Takut?

Main Saham, Siapa Takut?

- detikFinance
Senin, 14 Apr 2008 09:29 WIB
Main Saham, Siapa Takut?
Jakarta - Benarkan investasi saham itu lebih banyak ruginya, sehingga harus dijauhi? Apakah sedemikian menakutkannya pasar saham sehingga tidak cocok untuk investasi masyarakat awam?

Coba ikuti pengakuan Priyambudi (34 tahun) yang berprofesi sebagai investor ritel. Awalnya, Pri adalah seorang pekerja kantoran biasa. Namun akhirnya ia memutuskan untuk ikut nyemplung ke pasar saham.

Pri mengaku gajinya sebagai pekerja kantoran pas-pasan. Atas ajakan seorang temannya dia ikut membeli saham dengan nimbrung di rekening temannya. Dia lalu rajin belajar soal saham, mulai dari emiten, hingga perdagangan di pasar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untungnya sang teman selalu berpesan jangan serakah, sehingga Pri tidak riskan mengambil untung kecil Rp 10 atau Rp 25 per saham. Pri juga banyak membaca buku soal pasar modal, serta belajar pengalaman baik dan buruk dari investor lain.

Dengan ketekunannya, Pri akhirnya bisa mengembalikan modal awal, dan sudah punya rekening sendiri. Pri kini tinggal memutar uang hasil investasinya yang meskipun tidak begitu besar tapi bisa bergerak. Kuncinya Pri tidak serakah mengejar untung besar, dan sangat berhati-hati.

Tapi bukan berarti Pri tidak pernah rugi. Rugi dan untung selalu jarang beriringan di perjalanan investasinya selama 4 tahun ini, tapi dia berusaha meminimalisir kerugian. Caranya dengan mengerti prospek saham yang dibeli, tidak panik, dan tidak buru-buru mencari keuntungan. Kadang Pri harus memegang saham yang dimiliki hingga 1 tahun lebih karena menunggu harganya membaik agar tidak rugi.

Jadi apa sebenarnya saham?

Saham adalah produk keuangan di pasar modal. Memiliki saham berarti kita ikut serta dalam kepemilikan di perusahaan yang menerbitkan sertifikat saham tersebut. Investor yang berminat membeli saham tempatnya ada di Bursa Efek. Melalui pedagang dalam hal ini perusahaan sekuritas, investor membeli atau menjual sahamnya.

Apa untung dan rugi investasi saham?

Yang paling ditunggu investor tentu saja capital gain. Yaitu keuntungan dari hasil jual beli saham berupa kelebihan nilai jual dari nilai beli saham. Contoh ketika membeli saham harganya Rp 1.000 dan dijual ketika harga Rp 1.500, jadi selisih yang merupakan keuntungan investor Rp 500 inilah yang namanya capital gain.

Capital gain di saham kadang melebihi deposito perbankan, tapi karena kentungannya tinggi, risiko yang adapun tinggi. Tapi kadang kerugiannya pun juga sangat besar ketika harga saham jatuh. Contoh ketika membeli saham harganya Rp 1.000 tapi harganya terus turun Rp 750 sehingga investor rugi Rp 250. Biasanya jika tren harga sedang turun, investor memilih melepas sahamnya atau cut loss.

Pemilik saham juga bisa menikmati dividen yakni keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Besarnya dividen ditentukan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS). Tapi tidak selalu emiten membagikan dividen jika sedang rugi, atau butuh investasi besar sehingga keuntungan diutamakan untuk ekspansi usaha.

Investasi saham juga ada risiko likuidasi misalnya ketika perusahaan dinyatakan bangkrut oleh pengadilan.

Untuk menyiasati risiko dan kerugian, investor saham disarankan untuk mengikuti perkembangan perusahaan yang dimiliknya. Investor juga disarankan memiliki rekening sendiri di perusahaan efek, sehingga investasi anda terdata dengan baik.

Berapa biaya jual dan beli saham yang harus dikeluarkan?

Untuk pembelian biayanya adalah: nilai pembelian saham + (komisi pialang + PPN 10%). Untuk komisi biasanya maksimal 1%.

Contoh investor transaksi beli Rp 5 juta. Komisi 1% dari nilai transaksi atau Rp 50.000 dan PPN 10% dari komisi Rp 5.000. Sehingga biaya yang harus keluar untuk beli saham Rp 5.055.000.

Sebaliknya kalau menjual saham rumusannya nilai penjualan saham + (komisi pialang + PPN 10 %) + pajak penjualan sebesar 0,1 % dari nilai penjualan.

Contoh nilai transaksi jual Rp 5 juta. Komisi 1% dari nilai transaksi Rp 50.000. PPN 10% dari Komisi atau Rp 5.000. dan PPh atas transaksi jual yakni 0,1% dari nilai komisi Rp 5.000, jadi total biaya jual 60.000. Sehingga dari penjualan investor mendapat 4.940.000.

Untuk proses penyelesaian jual beli saham ini memerlukan waktu 3 hari atau (T+3) sejak terjadinya transaksi (T+0). Artinya kalau membeli saham Senin maka anda akan menerimanya 3 hari kemudian.

Namun perlu diingat, investasi saham tidaklah semulus jalan tol. Banyak faktor yang bisa membuat pasar saham jatuh, seperti kondisi ekonomi global yang merosot atau kenaikan inflasi.

Investor dituntut memperbarui ilmunya dan menyesuaikan metode investasinya dengan dana yang tersedia. Investor juga harus mengendalikan nafsunya untuk cepat dapat untung. Yang lebih penting tentunya bukan besaran keuntungan tapi bagaimana mendapat keuntungan yang konsisten bukan cuma sekali-kali sehingga tidak jadi pecundang.

Seperti jejak orang terkaya di dunia Warren Buffet yang mengaku sabar hingga puluhan tahun untuk mendapat hasil maksimal. Buffet yang sangat teliti dalam membeli saham tidak mau membeli saham yang dia tidak paham bisnisnya.

Untuk sebagian investor membeli saham ketika IPO adalah saat yang paling tepat. Tapi ada juga yang berprinsip belilah saham ketika harganya jatuh tapi hal ini dinilai berisiko. Justru membeli saham ketika harganya naik memberikan tanda saham itu berprospek.

Perlu diingat dana untuk bermain saham haruslah dana yang menganggur, jangan menggunakan dana untuk kebutuhan sehari-hari atau dana hasil utang.

Dengan persiapan dan tingkat kecerdasan finansial yang dimiliki, masihkah main saham itu menakutkan? Selamat mencoba....
(ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads