Saat industri reksa dana nasional hanya tumbuh 2,15% pada triwulan I 2008 ini, pada periode yang sama reksa dana syariah justru tumbuh 31,64%.
"Pertumbuhan pesat reksa dana syariah yang jauh di atas pertumbuhan reksa dana nasional didorong oleh perkembangan pasar industri syariah," ujar Presiden Direktur PT Fortis Investments, Eko P Pratomo, di gedung WTC, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Rabu (16/4/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara industri reksa dana syariah di akhir 2007 total dana kelolaannya sebesar Rp 2,203 triliun. Di akhir Maret 2008, total dana kelolaannya sudah mencapai Rp 2,9 triliun atau tumbuh 31,64%.
"Sejak tahun 2006, pertumbuhan industri reksa dana meningkat pesat, termasuk reksa dana syariah. Karena volume dana kelolaan reksa dana syariah masih kecil, sedangkan pasarnya sangat potensial, maka industri reksa dana syariah mengalami pertumbuhan yang selalu jauh di atas pertumbuhan nasional," ulas Eko.
Pada tahun 2006, reksa dana nasional masih sebesar Rp 50,869 triliun. Di akhir 2007 posisinya menjadi Rp 91,154 triliun atau tumbuh 79,2%.
Di tahun 2006, industri reksa dana syariah tumbuh lebih pesat lagi, yaitu dari Rp 719 miliar menjadi Rp 2,203 triliun di akhir 2007. Posisi tersebut tumbuh 206,4%.
Oleh karena itu, Eko menyatakan optimistis dengan perkembangan industri reksa dana syariah ke depannya, terutama jika Sukuk telah diluncurkan pada semester 2 tahun 2008 ini.
"Kita belum bisa memperkirakan angkanya, tapi kita optimis dengan industri ini," ujar Eko.
Sementara di tahun 2008 ini, Fortis menargetkan pertumbuhan dana kelolaan sebesar 27,3% menjadi Rp 28 triliun. Tahun 2007, total dana kelolaan Fortis sebesar Rp 22 triliun.
"Industri reksa dana nasional tahun ini menargetkan pertumbuhan sebesar 20%. Fortis optimis pertumbuhan dana kelolaan kita bisa lebih dari 20%, sekitar 27,3%," ungkap Eko.
Namun, Eko tidak menjelaskan bagaimana strategi perseroan untuk mengejar target pertumbuhan tersebut. Eko mengungkapkan, hingga akhir triwulan I 2008 ini, jumlah dana kelolaan Fortis masih berkisar di Rp 22 triliun, sebagaimana posisi di akhir 2007.
"Hal itu disebabkan market saat ini sedang kurang baik. Namun kita tetap optimis bisa mengejar target dana kelolaan kita di 2008," jelas Eko tanpa menjelaskan lebih lanjut.
(dro/qom)











































