Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Eddy KA Berutu mengatakan, imbal hasil investasi produk asuransi jiwa terkoreksi pada triwulan pertama ini. Namun, imbal hasil ini akan kembali mengalami penyesuaian atau kembali ke posisi semula pada triwulan-triwulan berikutnya di tahun ini.
"Namun, saya yakin imbal hasil itu akan mengalami penyesuaian karena saat ini pemahaman masyarakat terhadap produk asuransi sebagai produk investasi jangka panjang semakin baik. Jadi, meski terjadi koreksian atas imbal hasil investasinya di fase jangka pendek ini, nasabah masih melihatnya sebagai hal wajar. Nasabah lebih melihat ke fase jangka panjang. Apalagi kondisi pasar yang tak kondusif ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di regional dan global," kata Eddy dalam siaran pers, Rabu (25/6/2008).
Eddy menjelaskan, menghadapi kondisi pasar seperti sekarang, para perusahaan asuransi jiwa cenderung melakukan reklasifikasi terhadap portofolio investasinya. Hal ini dilakukan demi menjaga kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban terhadap nasabah seperti membayar klaim.
"Di sisi lain, para perusahaan tetap melakukan mix invesment untuk mendapatkan imbal hasil yang mendekati harapan para nasabahnya," katanya
Eddy menjelaskan, nilai investasi industri asuransi jiwa anggota AAJI pada triwulan pertama 2008 (unaudited) Rp 91,9 triliun. Nilai ini naik 38,4% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 66,5 triliun. Sementara itu, total asetnya mencapai Rp 102,5 triliun, meningkat 37% dibandingkan dengan periode lalu yang mencapai Rp 74,8 triliun.
Di kuartal pertama tahun ini, instrumen investasi produk asuransi jiwa sebagai berikut: efek-efek mencapai Rp 35,04 triliun atau setara 38,10% dari total investasi. Reksa dana Rp 27,99 triliun (30,43%), Deposito Rp 10,11 triliun (10,99%), SBI Rp 7,23 triliun (7,86%), Penyertaan Langsung Rp 4,08 triliun (4,43%), SBPU Rp 2,84 triliun (3,09%), Bangunan Tanah & Bangunan untuk Investasi Rp 2,08 triliun (2,26%), Pinjaman Polis Rp 2,05 triliun (2,23%), Pinjaman Hipotik Rp. 222,65 miliar (0,24%), Lain-Lain Rp. 337,01 miliar (0,37%). Seluruh instrumen itu sudah termasuk instrumen produk syariah.
Sementara itu, instrumen investasi pada 2007 adalah efek-Efek Rp 41,2 triliun atau 45,35%, Reksa dana Rp 26,6 triliun (29,21%), Deposito Rp 10,6 triliun (11,67%), SBI Rp 4,2 triliun (4,60%), Penyertaan Langsung Rp 4,0 triliun (4,44%), Bangunan Tanah & Bangunan untuk Investasi Rp 2,0 triliun (2,21%), Pinjaman Polis Rp 1,8 triliun (1,94%), Lain-Lain Rp 232,8 miliar (0,26%), Pinjaman Hipotik Rp 206,6 miliar (0,23%) dan SBPU Rp 91,3 miliar (0,10%).
Pada triwulan pertama (Q1) tahun ini, AAJI melaporkan, kinerja asuransi jiwa nasional berhasil membukukan total pendapatan premi Rp 13,9 triliun. Nilai ini tumbuh 61,1% dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 8,7 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Eddy, dari total pendapatan premi Rp 13,9 triliun itu, sebanyak Rp 10 triliun merupakan pendapatan premi produksi baru (new business). Angka ini tumbuh signifikan yakni 80% dari tahun lalu yang mencapai Rp 5,6 triliun.
"Kekhawatiran adanya penurunan pertumbuhan premi asuransi jiwa akibat kenaikan harga BBM dan inflasi ternyata tak terjadi. Kinerja bisnis asuransi jiwa terus meningkat dan menggembirakan pada tahun-tahun terakhir ini," kata Eddy.
Pada tahun lalu, industri asuransi jiwa nasional berhasil menutup pertumbuhan yang mantap dengan total pendapatan premi mencapai Rp 44,4 triliun. Nilai ini tumbuh 67% dibandingkan dengan 2006 yang mencapai Rp 26,5 triliun.
Eddy menambahkan, pertumbuhan sebesar 61,1% itu sangat menggembirakan, di tengah kondisi ekonomi Indonesia yang kurang baik pada awal tahun ini. Karenanya AAJI sangat optimistis pertumbuhan industri ini akan bisa lebih baik lagi menuju 2009.
"Pertumbuhan itu didorong pertumbuhan besar dari produk unit link yang tumbuh 126% menjadi Rp 4,8 triliun untuk kategori produk baru dan 91,6% menjadi Rp 1,5 triliun untuk kategori premi lanjutan. Produk tradisional juga tumbuh baik, yakni mencapai Rp 5,2 triliun. Ini menandakan bahwa minat nasabah terhadap produk asuransi jiwa masih tinggi. Kedua, industri ini bisa memenuhi kebutuhan masyarakat baik sebagai investasi lewat unit link maupun tabungan jangka panjang lewat produk tradisional," kata Eddy.
(ir/ir)











































