Garap Proyek Properti Rp 2,5 Triliun, Bakrieland Terbitkan Obligasi

Garap Proyek Properti Rp 2,5 Triliun, Bakrieland Terbitkan Obligasi

Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Senin, 20 Des 2010 12:25 WIB
Garap Proyek Properti Rp 2,5 Triliun, Bakrieland Terbitkan Obligasi
Jakarta - Total biaya berbagai proyek akan digarap oleh PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) diperkirakan mencapai Rp 2-2,5 triliun tahun depan. Perseroan berencana menerbitkan surat utang senilai lebih dari Rp 500 miliar untuk kelancaran proyek tersebut.

Demikian disampaikan Direktur Utama & CEO ELTY, Hiramsyah Thaib di Marketing Gallery Rasuna Epicentrum, di Jakarta, Senin (20/12/2010).

"Nilai obligasinya belum bisa disampaikan. Tapi akan lebih besar dari obligasi terakhir, lebih besar dari Rp 500 miliar," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan, salah satu proyek yang akan dilakukan perseroan adalah kawasan terpadu Jonggol di area seluas 13.000 hektar. Bakrieland juga akan mendukung rencana unit usaha PT Bakrie Toll Road dalam melaksanakan penawaran saham perdana ke publik sebanyak 20-30%.

Dana IPO BTR digunakan untuk mendanani pengembangan sejumlah ruas tol di Pulau Jawa. Segala rencana yang telah disiapkan perseroan ini tidak lepas dari positifnya industri properti di tahun 2011. Faktor membaiknya ekonomi Indonesia, menjadi pemicu pengembangan residensial. Tentu ini menguntungkan berbagai pihak, baik investor, pengembang ataupun konsumen.

"Peningkatan ekonomi terlihat dengan membaiknya daya beli masyarakat. Kebutuhan tempat tinggal pun menjadi kebutuhan mendasar. Maka kami optimis pasar properti Indonesia bisa tumbuh 20% di 2011," tambahnya.

Likuiditas perbankan dalam penyediaan KPR tercatat semakin tinggi. Dengan suku bunga kredit perbankan stabil, menjadikan masyarakat memilih properti hunian sebagai alternatif investasi atau tempat tinggal.

"Investor asing juga akan berlomba menjadikan Indonesia tujuan utama investasi. Selain kondisi ekonomi politik yang stabil, harga properti di Indonesia juga dinilai masih terlalu murah dibanding negara lain, serta imbal hasil yang tinggi dari investasi properti," ucap Hiramsyah.

(wep/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads