Beberapa faktor itu antara lain nilai tukar yang rata-rata berada di kisaran Rp 9.100/US$, pertumbuhan ekonomi yang sesuai prediksi Bank Indonesia (BI) di 2011 mencapai 6,2%.
"Secara umum pasar properti Indonesia memiliki pertumbuhan investasi yang cukup baik. Bahkan pasar properti Indonesia termasuk yang diincar oleh investor asing," kata Ketua Umum REI Setyo Maharso dalam jumpa pers di Senayan City, Jakarta, Rabu (22/12/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan pada tahun depan pihaknya akan terus mendorong adanya kepemilikan properti terhadap orang asing. Selain itu, program proyek rumah susun 1.000 tower di kota-kota besar akan terus dilanjutkan oleh para anggota REI yang saat ini sudah memiliki lahan dan izin.
"Di Jakarta saja sudah ada 249 tower yang sudah punya izin," katanya.
REI juga mengusulkan pada tahun depan setidaknya harus ada regulasi terkait tabungan perumahan bagi seluruh masyarakat Indonesia, di luar dari para PNS maupun TNI/Polri yang saat ini sudah ada.
Mengenai adanya ancaman internal di tahun 2011 seperti dampak pembatasan premium terhadap sektor properti ia optimistis tak akan banyak berpengaruh. Termasuk adanya rencana kenaikan harga semen yang selama ini dikabarkan akan naik.
"Kita mengalami 2008 di bulan Oktober soal BBM, kebijakan-kebijakan itu akan sedikit menghambat, tapi tak seterusnya," katanya.
Sementara itu Wakil Ketua REI Handaka Santosa mengatakan dengan kondisi pasar properti yang bagus di 2010 dan proyeksi tahun 2011 masih akan tumbuh, para pengembang akan terus berinvestasi untuk memenuhi kebutuhan.
"Tahun 2011 pertumbuhan ekonomi akan lebih tinggi tentunya kesempatan para pengusaha properti untuk meningkatkan belanja capital besar lagi," katanya.
REI mencatat selama tahun 2010 realisasi pembangunan rumah sejahtera tapak berhasil dikembangkan oleh para anggota REI mencapai 120.000 unit. Sebagian besar konsumen menggunakan fasilitas kredit kepemilikan rumah (KPR) melalui Bank BTN.
Realisasi KPR dari BTN mencakup subsidi dan non subsidi mencapai 107.673 unit dengan jumlah pembiayaan KPR mencapai Rp 7,4 triliun.
"Untuk tahun 2010, saya mendapat data dari dua bank besar, untuk kelas menengah KPR Rp 12 triliun itu mewakili sekitar 60% sisanya cash. Kelas sejahtera tapak misalnya BTN 109.000 unit itu sudah memperlihatkan bahwa penjualan properti lebih bagus," tambah Setyo.
(hen/dnl)











































