Geliat Sektor Properti Tertahan Aturan Kepemilikan Asing

Geliat Sektor Properti Tertahan Aturan Kepemilikan Asing

- detikFinance
Rabu, 29 Des 2010 08:24 WIB
Jakarta - Perusahaan-perusahaan properti terus melakukan ekspansi. Namun gerak mereka masih belum terlalu gencar karena menantikan regulasi baru tentang pemukiman, khususnya kepemilikan properti oleh asing.

"Mereka masih hati-hati. Menunggu regulasi meskipun mereka terus mendevelop (membangun) aset-aset properti yang ada," kata AnalystΒ  PT Samuel Sekuritas Indonesia, Adrianus Bias Prasuryo di kantornya, Menara Imperium, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Selasa (28/12/2010).

Ia menerangkan, minat asing untuk membeli aset properti di Indonesia masih tinggi. Terlebih, Indonesia menjadi satu-satunya negara yang belum mengizinkan kepemilikan properti oleh asing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kuncinya di regulasi. Jika asing bisa, maka permintaan (domestik) untuk orang beli jadi lebih besar. Properti kita tidak tumbuh karena (aturan) kepemilikan asing itu. Terus terang, tahun ini penyerapan anggaran properti mengecewakan," tutur Bias.

Pengembang tidak mementingkan berapa lama asing memiliki suatu properti di Indonesia. 70,80 atau bahkan 99 tahun kepemilikan, tidak menjadi fokus utama para pengembang, baik emiten ataupun non-emiten.

"Yang penting itu bisa dijalankan atau tidak (UU). Realisasinya. Dari info yang saya dengar memang akan ada peraturan turunannya. Tapi gimana, UU saja belum tentu di-approve (setujui) DPR, apalagi PP," ucapnya dengan nada pesimis.

Di luar itu semua, Bias menggambarkan pertumbuhan properti masih terus berlanjut tahun depan. Pendorong utamanya adalah peningkatan pendapatan penduduk Indonesia, karena perkiraan pertumbuhan ekonomi 6,6% pada 2011.

"Selain didrive oleh income, suku bunga kita juga relatif lebih rendah, walaupun ada potensi suku bunga naik, tapi sesuai ekspektasi, dan terjadi di second half. Namun kembali katalis utama (pendorong properti) adalah kepemilikan asing akan properti yang saat ini masih rendah," ucapnya.

Sebagai catatan, kuatnya konsumsi masyarakat memberi kontribusi 64% dari total PDB dalam periode tahun 2000-2009. Kuat konsumsi domestik juga disebabkan faktor dempografi, dimana komposisi penduduk berpendapatan menengah terus naik, dengan pendapatan per kapita tumbuh 4% pa.

Ini ditambah dengan tingkat ketergantungan (dependency ratio) penduduk yang tidak produktif terhadap yang produksif, sebesar 37%. Jauh lebih rendah dari dependency ratio di Jepang, 77%.

Emiten properti pun akan menikmati pertumbuhan di tahun 2011. Meningkatnya permintaan properti seiring dengan kenaikan pendapatan penduduk Indonesia, serta suku bunga kredit yang relatif lebih rendah akan membuat saham sektor properti bergerak lincah.

(wep/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads