Demikian disampaikan Direktur Riset dan Investor Relation Bahana TCW, Budi Hikmat di gedung Graha Niaga, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (5/1/2011).
Budi menerangkan, dalam berinvestasi masyarakat harus membaginya dalam dua bagian. Yakni investasi berisiko tinggi dan yang risikonya minim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam berinvestasi, style-nya risk asset dan unrisk asset. Jika sudah mendapatkan keuntungan di risk asset, secure-nya beli (asset) unrisk. Kebetulan tanah," jelasnya.
"Jika dibandingkan return (properti) bisa mencapai 50%, sementera pinjam (perbankan) 11%, kenapa tidak pinjam, kan menguntungkan," paparnya.
Proporsi investasi berisiko dan minim risiko adalah perbesar saham di saat Anda masih berusia muda.
"Alokasi saham sama dengan 100 dikurangi usia Anda. Misal usia 30 tahun, berarti investasi di saham 70%. Sisanya secure asset," ucap Budi.
"Bahkan ada perhitungan yang lebih berani lagi, alokasi saham 110%. Artinya, meminjam. Kalau cycle (ekonomi) Indonesia bagus. Selama cost of debt lebih murah dari expected, dan risk asset, ambil debt (utang) dong" imbuhnya.
(wep/dnl)











































