Harga Cabai Pengaruhi Bisnis Properti

Harga Cabai Pengaruhi Bisnis Properti

- detikFinance
Senin, 07 Feb 2011 07:22 WIB
Jakarta - Kenaikan harga cabai ternyata juga mempengaruhi bisnis properti. Hal ini dikarenakan harga cabai telah membuat inflasi melambung tinggi sehingga memaksa Bank Indonesia menaikkan suku bunga patokannya, BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,75%.

Managing Director BTN Irman A. Zahiruddin menyatakan jika hal ini berkelanjutan, maka akan memaksa bank-bank untuk menaikkan suku bunga kreditnya. Imbasnya,  bisnis properti pun dapat terhambat dengan kenaikan suku bunga kredit tersebut.

"Jangan-jangan nanti cabai bisa pengaruhi ke properti juga lagi, kan cabai ke  inflasi, inflasi ke BI Rate, BI rate ke kredit, kredit ke properti," ujarnya
ketika ditemui di acara BTN Expo 2011, Jakarta Convention Center, Jakarta, akhir pekan lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada Jumat (4/1/2011) lalu, BI sudah menaikkan tingkat suku bunga acuan sebanyak 25 bps ke level  6.75%. Alasannya, untuk menjaga tingkat inflasi, seperti ditunjukkan survei konsumen dan produsen BI serta bergejolaknya imbal hasil surat utang.

Namun meski tingkat BI Rate naik, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) masih menahan suku bunga kredit dan bunga Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) di posisi yang sama.

Direktur Utama BTN Iqbal Latanro menegaskan, pihaknya tidak akan bertindak reaktif menanggapi kenaikan BI Rate sebesar 25 bps yang diumumkan kemarin dengan menaikkan suku bunga kredit BTN.

"Kenaikan BI Rate 25 basis poin, tentu kita tidak serta merta bereaksi, reaktif,  tapi kita melakukan kajian apakah signifikan atau tidak signifikan kita berharap tidak signifikan," ujar Iqbal dalam acara pembukaan BTN Expo 2011 di JCC, Sabtu  (5/2/2011).

Begitu juga dengan suku bunga FLPP, Iqbal menyatakan belum ada rencana menaikkan suku bunga tersebut mengingat komitmen pihaknya dengan pemerintah untuk menahan bunga sebesar 8,15-8,5 persen.

"Apa FLPP akan naik? Kita punya komitmen dengan Kementerian 8,15-8,5 persen bunga, dengan memperhatikan cost of fund BTN sendiri," ujarnya.

Iqbal menyatakan pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap kenaikan suku bunga BI tersebut. "Saya belum yakin bunga akan naik. Sebagai badan usaha kita  senantiasa mengevaluasi. Jangan diributkan dulu, apa yang bisa dilakukan.

Hal senada juga disampaikan Irman. Menurutnya, saat ini pihaknya belum perlu menaikkan suku bunga kredit. Namun, jika naiknya BI Rate terus menerus dalam waktu singkat maka kenaikan suku bunga kredit pun mulai dipertimbangkan oleh bank.

"Kalau 25 bps terus berhenti ya nggak naik. Kalau 25 bps naik per bulan masih nggak perlu naik. Tapi kalau 25 bps naik per minggu, kita harus duduk bareng," imbuhnya.

(nia/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads