Menurut Iqbal, bisnis KPR tetap memiliki prospek positif sepanjang tahun seiring dengan stabilnya permintaan, karena jalinan cinta sebuah pernikahan.
"Permintaan perumahan, untuk permintaan cukup tinggi," jelas Iqbal dalam seminar BTN Property Expo, di JCC, Senayan Jakarta, Senin (7/2/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama ada cinta, akan ada rumah. Dan akan ada kredit," ucap Iqbal.
Menurutnya, sepanjang 2011 BTN menbidik pertumbuhan kredit properti sebesar 25-27%. Tidak ada alasan untuk khawatir terjadi stagnansi pada industri ini, mengingat porsi kredit properti di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara lain di kawasan Asia.
"Mortgage loan (KPR) Indonesia baru 2%. Bandingkan dengan Singapura 36%, Thailand 10%, dan Malaysia 25%. Ruang untuk tumbuh masih besar. Ke depan akan tetap tinggi," tuturnya.
Iqbal pun kembali menyoroti akan pertumbuhan hunian vertikal yang masih sangat minim. Padahal sub sektor ini menjadi salah satu solusi untuk mengefisiensikan lahan yang semakin terbatas di kota-kota besar, macam Jakarta.
"Landed house ke depan tidak baik. Karena tanah akan tidak efisien, macet. Dan BTN siap untuk itu (mendukung pertumbuhan hunian vertikal). Memang belum populer. Dan umumnya saat ini banyak tumbuh di luar kota Jakarta, seperti Tangerang, dan Bekasi. Tapi lebih Tangerang, mungkin karena Pemda di sana mendukung," paparnya.
Perseroan pun terus mendorong agar bunga kredit properti diturunkan, dari yang berlaku saat ini. Namun, seraya bunga kredit turun juga harus dinikmati oleh konsumen akhir. Bukan hanya pengembang.
"Kita berupaya tekan suku bunga. Jika demikian kan marjin pengembang akan naik. Yang menikmati siapa, pengembang. Mestinya dibagi berdua (pengembang dan konsumen)," imbuh Iqbal.
(wep/dnl)











































