Division Manager Research Colliers International Ferry Salanto mengatakan kenaikan tarif hotel terjadi dalam besaran kurang lebih 10%. Para pengelola diperkirakan akan menaikan tarif kamar hotel mulai April 2011.
"Kenaikan average room rate (ARR) di 2011 karena operation cost naik, beberapa hotel akan menaikan ARR, dengan pertimbangan tarif listrik, upah pekerja," katanya dalam acara konferensi pers di Jakarta, Rabu (16/2/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, hotel bintang 5 di Jakarta rata-rata memiliki tarif Rp 855.526 sementara kuartal sebelumnya Rp 806.613. Untuk hotel bintang 5 yang termasuk bertarif mahal diantaranya hotel bertarif diatas Rp 1 juta yaitu Kempinski, Ritz Carlton (SCBD) dan Grand Hyatt.
Meskipun ada kenaikan tarif, ia memperkirakan tingkat hunian hotel (okupansi) masih ada kecenderungan naik di tahun ini. Beberapa faktor yang bisa mendorongkrak okupansi antaralain perhelatan SEA Games, acara pertemuan ASEAN, termasuk acara-acara internasional lainnya dan permintaan dari domestik.
Ia juga mengatakan permintaan masih sangat bagus khususnya untuk hotel bintang 4 karena hotel kelas ini memberikan fasilitas lebih baik dari bintang 3 namun memiliki tarif dibawah bintang 5.
Dikatakannya perkembangan hotel di Jakarta, akan semakin diramaikan dengan berdirinya hotel-hotel baru di Jakarta selama periode 1-2 tahun ke depan.
Berikuti ini beberapa hotel baru yang akan beroperasi di Jakarta:
- Hotel Bintang 3: All Seasons Hotel beroperasi tahun 2012 lokasi di Jl. KH Zainul Arifin.
- Hotel Bintang 4: Best Western Mangga Dua akan beroperasi di 2011 lokasi Mangga Dua, Aston Menteng berlokasi di Menteng akan beroperasi di 2012, Hotel Emporium Pluit beroperasi di 2012 lokasi Pluit.
- Hotel Bintang 5: Pullman Hotel beroperasi di 2011 lokasi Jl S. Parman, The Aryaduta Regency beroperasi 2012 lokasi Kemang, Raffles beroperasi 2012 lokasi Jl. Satrio, St. Regis Hotel & Residence beroperasi di 2012 lokasi Gatot Subroto dan Hotel Gandaria City beroperasi 2012 lokasi Gandaria Kebayoran Lama.
Mengenai kinerja sektor hotel pada tahun 2010 lalu, di Jakarta setidaknya satu hotel bintang 3, dua hotel bintang 4 dan satu hotel bintang 5 sudah beroperasi.
Dari sisi okupansi hotel bintang 4 masih menduduki posisi teratas dengan rata-rata okupansi 74% bahkan beberapa hotel mencapai diatas 80%. Sementara hotel bintang 3 rata-rata tingkat okupansi mencapai 65% dan diikuti hotel bintang 5 yang hanya 59%.
Ia juga mengatakan jika dibandingkan dengan tingkat okupansi hotel dari tiga wilayah yang diteliti Colliers International yaitu Jakarta, Surabaya dan Bali. Wilayah Surabaya memiliki tingkat okupansi tak terlalu baik dari Jakarta dan Bali, begitu pula dari sisi ARR.
"Kegiatan corporate di Surabaya, dengan bintang lima dibawah Jakarta dan Bali, mereka datang dalam bentuk group, maka ARR-nya turun," katanya.
Sementara itu, untuk hotel-hotel di Bali masih ditopang dari okupansi tamu domestik maupun asing. Ferry juga mengatakan, saat ini ada tren banyaknya penerbangan langsung (direct flight) ke Bali seperti Pattaya-Bali yang secara langsung menopang hunian hotel di Bali.
"Itu yang menjadi pendorong okupansi di Bali, dan ada berapa direct flight beberapa negara," katanya.
(hen/qom)











































