Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa mengatakan, jika memasukkan harga lahan dan jamban, mungkin harga rumah tersebut sekitar Rp 7 juta hingga Rp 9 juta.
"Jadi tidak ada alasan bagi para pengembang untuk mengeluhkan kenaikan harga rumah. Sebab pembangunan rumah murah sudah bisa dilaksanakan dengan baik," ujar Suharso seperti dikutip dari situs Kemenpera, Jumat (25/2/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Suharso, Presiden merasa puas atas hasil pembangunan rumah tersebut. Sebab, program tersebut dirasa lebih baik serta bisa menjadi tolok ukur pelaksanaan program serupa yang nantinya akan dilaksanakan di seluruh Indonesia mengingat kekurangan kebutuhan (backlog) perumahan yang jumlahnya terus meningkat sekitar 800.000 unit per tahunnya.
"Rumah murah bisa dibangun dengan menggunakan bahan-bahan material lokal yang ada di daerah tersebut. Dengan adanya bantuan prasarana, sarana, dan utilitas (PSU) dari Kemenpera tentunya harga rumah akan semakin murah," harapnya.
Untuk pembangunan rumah murah yang rencananya akan dimulai tahun ini, Suharso mengajak seluruh pengembang untuk mendukung kebijakan pemerintah tersebut. Pemda pun diajak untuk membantu penyediaan lahan sehingga meminimalisir biaya yang harus dikeluarkan. Namun banyak Pemda yang enggan menyediakan lahan.
Sebelumnya, Presiden SBY mengaku iba melihat masih banyaknya masyarakat yang tinggal di kolong jembatan. Karena itu, pemerintah menjanjikan rumah murah seharga Rp 5-10 juta dengan skema kredit lunak bagi masyarakat miskin.
"Apa yang saya pikirkan saudara-saudara? Di kolong-kolong jembatan, saya kira ketika saudara naik mobil, melewati tempat itu, ada saudara kita yang bermalam di situ, tentu tidak baik kita membiarkan. Di bantaran sungai atau di tempat-tempat lain yang sepatutnya tidak di situ," tutur SBY saat memberi arahan dalam raker pemerintah bidang ekonomi di Istana Bogor, Selasa (22/2/2011). (dnl/qom)











































