Demikian disampaikan Ketua Asosiasi Pengusaha Mebel Interior Indonesia (APMII) Dony Setyono dalam pembukaan pameran Furniture Indonesia 2011, di JCC, Senayan, Jakarta, Sabtu (26/2/2011).
Menurutnya, kecenderungan masyarakat dalam menghadirkan kesan simpel dalam hunian semakin besar. Terlebih anak muda, sudah banyak menggemari tren yang dalam 3 tahun terakhir jadi sorotan desainer.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Desain furnitur minimalis tidaklah rumit. Terlebih bentuk ini tidak mengambil porsi ruang yang luas. Dengan hunian yang semakin terbatas, layaklah minimalis jadi pilihan.
Pelaku Industri Furnitur Merasa Terpinggirkan
Pada kesempatan yang sama, Dony juga menjelaskan, pelaku industri furnitur merasa tidak mendapat dukungan pemerintah guna menggairahkan kembali pasar. Selama ini, penyelenggaraan pameran yang digagas asosiasi seakan mandiri tanpa adanya keberpihakan dari negara.
Dony mencontohkan setiap penyelenggaraan pameran, setiap pengusaha harus mengeluarkan dana sekitar Rp 140 juta. Di mana biaya didominasi oleh sewa ruang yang menurut pengusaha sangat mahal.
Kasus ini jauh berbeda dengan China. Pemerintah negeri Tirai Bambu tersebut memberi kemudahan berupa insentif pajak atau subsidi penyelenggaraan pameran.
"Di sini, harga sewa 1 juta per m2, kalau minimal 100 m2, berarti Rp 100 juta. Total sekitar Rp 140 juta, karena ada penambahan logistik dan layout. Belum lagi kalau tidak laku, harus kembalikan," tuturnya.
"Di negara lain, ada insentif. China, pameran ke negara tertentu full dibiayai. Jadi tinggal pameran saja. Juga ada tax refund untuk penyelenggartaan di dalam negeri. Misal kita beli furnitur di sana, nggak usah DP (uang muka). Kita transfer saja, barang diantar," tegas Dony.
"Kita (Indonesia) juga kurang promosi iklan di negara lain. Kalau Malaysia, kementerian pariwisatanya waktu musim liburan iklan di mana-dimana. Kita di sana nggak ada sama sekali iklan," tukas Dony.
(wep/dnl)











































