Dirut Perumnas Himawan Arief Sugoto menjamin rumah super murah itu tetap layak huni meski anggarannya sangat minim. Rumah itu tetap berdinding dan diplester, namun atapnya bukan genteng melainkan seng atau asbes.
"Bangunannya tipe modelnya low house, ada plester, ada plafon, atap rumah pakai seng atau asbes, dinding semua full, ini benar-benar rumah layak. Hanya
lantainya floor, kamar mandi pun ada, dengan tipe 36 yang layak itu kan per jiwa 9 meter persegi dikali 4 jadi 36," jelas Himawan saat berbincang dengan detikFinance di kantornya, Jakarta, Kamis (4/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Himawan mengungkapkan, pemerintah akan membangun rumah super murah ini di beberapa wilayah di Jawa dan luar Jawa. Namun untuk Bali dan Jakarta, belum diputuskan apakah akan dibangun rumah murah mengingat harga tanahnya yang mahal.
"Di Jawa juga ada, di Jawa Timur ada sekitar Malang, kita coba juga di sekitar Jawa Barat di Maja, kemungkinan juga di sekitar Jawa Tengah dan Yogyakarta, luar Jawa juga banyak. Yang masih belum terindentifikasi adalah Bali, dan DKI karena harga tanahnya mahal," ujarnya.
Untuk tahap awal, lanjut Himawan, rumah super murah ini akan dibangun di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk 10.000 unit rumah.
"Kita target ground breaking di bulan April, rencana tadi diprediksi, lokasinya di NTT, kita mulai supaya jangan di Jawa, rencananya seluruh NTT 10.000 unit rumah," ungkapnya.
Himawan mengungkapkan, untuk pembangunan 100.000 unit rumah itu kebutuhan tanahnya bisa mencapai 1 juta hektar.
"Kalau setiap satu hektar itu bisa dibangun ada 80 rumah karena yang dipakai itu 60% sisanya kan untuk infrastruktur. Berarti kalau butuh 40.000 rumah saja itu membutuhkan 500.000 hektar, itu yang harus dicarikan. Kebutuhannya diharapkan ada 1 juta hektar untuk membangun 100.000 rumah," imbuhnya.
(hen/qom)











































