"Mewujudkan rumah murah harus dengan Central Residential Fund atau pusat dana perumahan, kalau untuk penanganan kebutuhan (rumah) Rp 20-25 juta itu seperti sudah lapar dan diberikan makan," kata Ciputra dalam acara Young Developer Forum Meet Ciputra, di Balai Kartini, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (9/3/2011).
Meski sudah menjadi kebutuhan dasar, konsep rumah murah tapak (landed house) saat ini lambat laun harus bergeser menjadi rumah vertikal.
Ciputra membayangkan nantinya akan ada pengembangan rumah susun sangat murah di perkotaan yang bisa dikembangkan melalui pendanaan Central Residential Fund seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan lain-lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga mengkritik soal pengembangan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) yang bisa dibilang gagal, selain menciptakan kekumuhan baru karena masyarakat merasa tak memiliki. Adanya rusunawa, masyarakat akhirnya tak memiliki rumahnya sendiri karena harus terus menyewa.
"Sejak dua tahun lalu saya sudah bilang ke pemerintah, jangan bikin rumah dengan sistem sewa kayak rusunawa, atau yang sekarang ini sewa," jelasnya.
Seperti diketahui pemerintah tengah menggodok pengembangkan rumah murah seharga Rp 20-25 juta per unit. Tahun ini setidaknya ditargetkan bisa terealisasi 100.000 unit rumah murah.
Melalui fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) masyarakat menengah ke bawah bisa menikmati rumah ini tanpa uang muka dengan cicilan yang dijanjikan pemerintah berkisar Rp 200-250.000 per bulan.
(hen/dnl)











































