Demikian disampaikan Head of Research & Advisory Cushman & Wakefield Global Estate Solution Arif Rahardjo, di kantornya, SCBD, Jakarta, Rabu (13/4/2011).
"Kondominium masalahnya, tingkat hunian tindak tinggi. Umumnya untuk investasi. Jadi pembeli harus pintar, beli yang strategis," ungkap Arif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kalau satu kondominium jumlah unitnya 300, harus hati-hati. Di sana ada apa, lihat dulu," tuturnya.
Berdasarkan catatan Cushman & Wakefield Global Estate Solution, terdapat 8 proyek kondominium yang baru selesai dibangun.
Mereka diantaranya Royal Mediterania Garden, Tw Ritz Kemang Village, Tw Cosmopolitan Kemang Village, Central Park Residences, MT Haryono Square, 1@Cik Ditiro, dan Season City. Adanya proyek ini menjadikan total pasokan kumulatif terbangun sebanyak 80.502 unit, atau bertambah 2.877 unit.
Sedangkan kondominium yang baru diluncurkan, di antaranya Casa Grande, Green Bay Pluit, Silkwood Residences, The Windsor, Paramount Residences, Paramount Skyline, Pakubowono Terrace, dan The Premier Best Western. Sehingga ada potensi penambahan pasokan kondominium 42.279 unit di masa mendatang.
Menurut catatan Cushman & Wakefield, kondominium di lokasi CBD memiliki tingkat penyerapan terbaik, dengan kenaikan harga jual paling tinggi.
"Harga jual rata-rata kondominium di daerah CBD sebesar Rp 17,45 juta per m2, naik 4,2% dari triwulan lalu dan naik 9,9% dari tahun lalu. Sementara rata-rata harga jual di daerah primier tercatat sebesar Rp 16,74 juta per m2, naik 3,9% dari triwulan lalu, dan naik 10,9% dari tahun lalu," tulisnya dalam laporan properti triwulan I-2011.
(wep/dnl)











































