Ketua Umum REI Setyo Maharso mengatakan pihaknya selaku perhimpunan pengembang swasta di Indonesia telah menyelesaikan kajian terkait kelayakan pembangunan rumah murah. Saat ini anggotanya siap jika diminta pemerintah asalkan ada payung hukum yang jelas.
"Kita masih menunggu, karena regulasinya belum keluar," kata Setyo kepada detikFinance, Rabu (27/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak bisa menyampaikan berapa harga persisnya, tunggu Pak Menteri (Perumahan Rakyat), kalau bilang sekarang nanti kemahalan atau malah kemurahan," ujarnya.
Dikatakannya bagi pengembang masalah regulasi menjadi penting karena menyangkut kepastian lahan yang akan dibangun. Ia berharap adanya regulasi dari Kementerian Perumahan Rakyat bisa memfasilitasi penyediaan lahan oleh pemerintah daerah.
"Kalau diminta bantu kita oke. Masih menunggu regulasinya, kita belum tahu, terutama soal harga tanah masuk atau tidak," katanya.
Setyo sangat optimistis anggotanya bisa menyambar kesempatan ini. Apalagi saat ini REI menjadi salah satu perhimpunan pengembang swasta terbesar di Indonesia.
"Kapasitas kita besar, dan kita juga mesti ada untung," katanya.
Sementara itu rencana pengembangan rumah murah versi Perum Perumnas rencananya baru akan dilakukan paling lambat Agustus 2011. Hal ini karena Perumnas harus menunggu cairnya anggaran subsidi perumahan atau public service obligation (PSO) sebesar kurang lebih Rp 500 miliar.
Perumnas ditugaskan oleh pemerintah untuk menyiapkan pengembangkan rumah murah seharga Rp 20-25 juta per unit. Tahun ini setidaknya ditargetkan bisa terealisasi 100.000 unit rumah murah.
(hen/dnl)











































