Wakil Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Johnnie Sugiarto mengatakan, tren itu merupakan suatu yang lumrah. Kondisi makro ekonomi yang stabil dan isu keamanan seperti ancaman terorisme yang relatif aman membuat bisnis hotel menikmati masa puncaknya.
Selain itu, kenaikan pertumbuhan sektor angkutan udara ikut mendorong permintaan kamar hotel. Sementara dari sisi pasokan hotel baru atau suplai sampai saat ini masih terbatas, tak jarang pada masa peak season, kamar hotel di beberapa daerah tak bisa menampung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, tak mengherankan sampai saat ini tak ada satupun pengelola hotel gulung tikar karena tak mendapat tamu. Tren permintaan kamar hotel masih didominasi oleh hotel bintang 2 dan 3.
"Misalnya Hotel Amaris di bandara, waktu dibuka tarifnya hanya Rp 280.000 sekarang sudah Rp 500.000," kata Johnnie.
Ia mengakui pesatnya permintaan kamar hotel masih berkutat pada segmen pasar Rp 400-500.000 per kamar atau setara dengan hotel bintang 2 dan 3. Fenomena ini bisa terlihat dari pesatnya pembangunan hotel segmen ini di Bandung yang juga dilengkapi fasilitas-fasilitas tambahan, yang semakin diburu konsumen saat akhir pekan.
Khusus untuk wilayah Bali misalnya, pertumbuhan hotel memang mulai direm karena adanya desakan pengusaha hotel disana untuk membatasi pembangunan hotel. Hal ini lambat laun berpengaruh pada suplai yang ujung-ujungnya mempengaruhi harga kamar.
"Di Bali tadinya kita masih menemukan yang di bawah Rp 1 juta, sekarang sudah diatas Rp 1 juta, mereka sudah menaikkan sendiri, memakai mekanisme pasar," katanya.
Meskipun masih terbatas dengan suplai baru, namun kata dia di beberapa kota di Indonesia mencatat pertumbuhan bisnis hotel yang signifikan seperti
Balikpapan, Samarinda, Bangka, Bali, Jakarta, Makassar, Ambon. Hotel di daerah-daerah masih sangat ditopang dari kegiatan pariwisata dan menggeliatnya bisnis-bisnis di daerah seperti pesatnya bisnis kontraktor pertambangan.
"Saya pikir tahun pertumbuhan penambahan kamar hotel sampai 5%. Omset naik lebih tinggi, okupansi pada paruh tahun ini saja sudah 15% dibandingkan tahun lalu, sampai akhir tahun ini bisa sampai 15%," katanya.
(hen/qom)











































