CEO Leads Property Hendra Hartono mengatakan selama ini ruang convention di Jabodetabek banyak dipenuhi dari lokasi-lokasi hotel maupun super blok. Namun untuk fungsi kebutuhan pameran skala yang lebih besar hanya bisa dipenuhi di JIExpo Kemayoran dan Jakarta Convention Center (JCC).
"Trennya pembangunan convention center arahnya pada kapasitas," katanya kepada detikFinance, Jumat (29/7/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau sudah kapasitas 10.000 orang maka pilihannnya PRJ (JIExpo) dan Sentul (Sentul International Convention Center)," katanya.
Hendra mencontohkan salah satu lokasi baru yang menjadi alternatif adalah Sentul International Convention Center (SICC) Bogor. Lokasi ini meski dipinggir Jakarta, namun relatif memiliki akses yang cukup baik.
"Skala seperti yang di Sentul banyak nggak di Jakarta? Dengan ekonomi Jakarta menggeliat, kebutuhan akan convention center makin tinggi," katanya.
Menurutnya ke depannya bisnis convention center akan semakin kinclong yang ditopang tumbuhnya permintaan di segmen ini. Apalagi pemain baru seperti Sinarmas dan Kompas mulai masuk ke bisnis convention dengan membangun hall di BSD Serpong, Tangerang Banten senilai Rp 1,5 triliun.
"Sudah waktunya Indonesia punya tempat memadai dan sekarang masih kurang," katanya.
Hendra menuturkan keberadaan JCC Jakarta saat ini sudah mencapai titik jenuh. Dengan lokasi yang paling strategis justru lokasi ini sudah padat dari sisi parkiran, kepadatan pengguna, kemacetan. Bahkan saking padatnya, lokasi disekitarnya seperti Istora dan Tenis Indoor Senayan juga tak jarang difungsikan untuk kepentingan pertemuan.
"Untuk JCC dari segi kemudahan parkir sudah macet, misalnya acara wisuda ada berbarengan dengan travel fair, sudah menjadi mix kadang-kadang dipakai untuk perkawinan juga. Daya tampung sudah tak cocok lagi, memang lokasi paling strategis," katanya.
Ia menggaris bawahi pengembang convention center harus fokus pada aspek keamanan dalam menawarkan jasanya. Bahkan yang tak kalang pentingnya adalah desain yang menarik untuk menjadi simbol atau icon kemegahan sebuah convention center.
"Desainnya juga harus bagus, dan menjadi icon building seperti gedung opera Sydney," katanya.
Masalahnya, lanjut Hendra, gedung convention center atau pun exhibition hall di luar Jabodetabek masih sangat terbatas. Lokasi wisata seperti Bali saja, hanya baru memiliki lokasi sejenis seperti di Westin di Nusa Dua.
(hen/dnl)











































