Pertumbuhan kredit properti tersebut didorong oleh segmen Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kepemilikan Apartemen (KPA) yang tembus Rp 175,14 triliun.
Demikian dikutip dari Statistik Ekonomi dan Monter BI seperti disampaikan oleh Juru Bicara BI Difi Johansyah kepada detikFinance di Jakarta, Jumat (30/12/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kredit properti paling banyak disalurkan oleh bank swasta nasional serta disusul oleh bank milik pemerintah (BUMN). Bank swasta menyalurkan kredit properti hingga Rp 135,49 triliun sedangkan bank Persero sebesar Rp 114,30 triliun.
"Namun untuk KPR dan KPA yang disalurkan masih lebih banyak dari bank Persero yang mencapai Rp 82,65 triliun sedangkan bank swasta nasional menyalurkan KPR dan KPA hingga Rp 77,19 triliun," tutur Difi.
Difi menyampaikan kredit properti yang masuk kepada segmen kredit konsumer memang terus dipantau. Ia menilai pesatnya pertumbuhan kredit konsumer perlu diwaspadai. Pertumbuhan kredit konsumsi bisa menimbulkan kerawanan jika terjadi gejolak ekonomi yang menyebabkan nasabah gagal bayar.
"Kredit konsumsi memiliki potensi kerawanan terhadap bank kalau ada shock ekonomi seandainya nasabah gagal bayar," tutup Difi.
Berikut suku bunga kredit KPR yang ditawarkan bank-bank seperti dikutip detikFinance pada awal Desember 2011 dari situs 10 bank dengan aset terbesar :
1. BCA : KPR 7,50%
2. BII : KPR 10,67%
3. BTN : KPR 11,08%
4. Permata : KPR 12%
5. Panin : KPR 11,75%
6. CIMB Niaga : KPR 11,30%
7. Bank Mandiri : KPR 11,25%
8. BRI : KPR 11,07%
9. Danamon :KPR 12,25%
10. BNI : KPR 11,80%
(dru/ang)











































