Waspada! Tipu-tipu 'Goreng' Harga Properti

Waspada! Tipu-tipu 'Goreng' Harga Properti

- detikFinance
Rabu, 11 Jan 2012 11:15 WIB
Waspada! Tipu-tipu Goreng Harga Properti
Jakarta - Indonesia Property Watch (IPW) mengingatkan agar masyarakat tak terjebak dengan penawaran harga jual properti seperti perumahan yang nilainya sangat fantastis.

Harga-jual yang terlalu tinggi dengan iming-iming kawasan strategis, belum menjamin gainnya sesuai yang diharapkan bahkan bisa-bisa nilai properti di kawasan itu mendekati harga jenuh (over value).

"Harga yang ada, bukanlah harga yang benar-benar terjadi dari mekanisme pasar. Melainkan harga yang ditetapkan oleh pengembang melalui pasar primer," kata Direktur Eksekutif IPW Ali Tranghanda dalam keterangan tertulisnya, Rabu (11/1/2012)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya padahal pada pasar sekunder (bukan baru), kenaikan tidak setinggi kenaikan harga yang dipatok oleh pengembang. Ini yang dinamai harga properti 'digoreng' pengembang, karena setelah harga terlanjur terlalu tinggi dan dipaksa tinggi oleh pengembang. Akibatnya secara investasi menjadi tidak semenarik sebelumnya.

Meski demikian Ali sadar, penentuan harga menjadi hak penuh pengembang. Jadi, masyarakatlah yang harus jeli dalam menganalisa, mana kawasan properti yang over value dan mana yang masih prospektif.

Saat ini, lanjut Ali, kondisi demikian membuat pasar properti di Indonesia menjadi tidak sehat dan tidak stabil. Jika sewaktu-waktu terjadi koreksi pasar, harga properti turun dan langsung membentuk keseimbangan baru.

Bagi sebagian pengembang, kenaikan harga properti yang secara periodik (rata-rata setiap tiga bulan) hanya sekedar trik marketing. Tujuannya untuk merangsang pembelian baru. Naiknya harga juga tidak menimbulkan bubble di industri properti dalam negeri.

Indonesia Property Watch (IPW) pernah menyampaikan, sebagian daerah di Jabodetabek telah mengalami kejenuhan, seperti Kapuk, Pluit, dan Serpong. Hal ini terjadi, karena pede-nya pengembang dalam menawarkan unit properti baru kepada masyarakat, di tengah membaiknya ekonomi dalam negeri.

Kecenderungan ini mengakibatkan over value, atau harga telah terkatrol tinggi, melebihi psikologis pasar. Adalah apartemen dan perumahan kelas atas yang merasakan dampak over value ini.

"Pasar digiring ke arah pasar jenuh, dan seakan-akan properti yang dibeli memperoleh capital gain yang tinggi karena kenaikan tersebut," katanya.

Ia mengingatkan keuntungan atau capital gain adalah harapan bagi konsumen yang ingin berinvestasi properti. Namun harus dicermati lebih dalam apakah properti yang dibeli sesuai ekspektasi?

Sementara, Direktur Marketing PT Alam Sutera Tbk (ASRI), Lilia Sukotjo menjelaskan harga properti yang tinggi merupakan tuntutan pasar. Karena unit yang disediakan terdapat di lokasi yang strategis. Infrastruktur yang ada di dalamnya juga lengkap, hingga tidak ada alasan pengembang jual harga dengan murah.

"Harga mahal itu tergantung. Ada di fase mana? Mereka lihatnya sekarang. Kalau gede (mahal) karena yang kecil-kecil sudah banyak. Tinggal di lokasi tertentu. Infrastruktur juga telah terbangun. Selama membangun itu, kita kan butuh duit kembali," jelas Lilia beberapa waktu lalu.

Menurut Direktur PT Ciputra Property Tbk (CTRP), Artadinata Djangkar, market properti Indonesia sangat unik, masih tertutup dan belum ada kepemilikan asing yang signifikan. Ini membuat properti Indonesia tidak rentan kepada bubble.

Indonesia, lanjutnya memiliki rem alamiah untuk mencegah bubble. Yaitu bank secara hati-hati memberi pinjaman kepada dunia properti.

"Tidak seperti zaman sebelum krisis tahun 1998. Kalau developer ingin membangun, harus percaya kepada market. Nggak bisa bangun kalau market nggak ada," tutur Artadinata.

(wep/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads