Goreng Menggoreng Harga Sudah Jadi 'Tabiat' Bisnis Properti

Goreng Menggoreng Harga Sudah Jadi 'Tabiat' Bisnis Properti

- detikFinance
Rabu, 11 Jan 2012 16:42 WIB
Goreng Menggoreng Harga Sudah Jadi Tabiat Bisnis Properti
Jakarta - Masalah goreng menggoreng harga properti dalam penjualan unit properti sudah menjadi fenomena lazim dalam bisnis properti. Konsumen harus cerdas saat akan menentukan pembelian unit sebuah properti seperti rumah.

Pengamat ekonomi kota dan dosen real estate FEUI Ruslan Prijadi mengatakan secara natural bisnis properti memang paling tak efisien dalam hal penetapan harga (pricing). Di sinilah konsumen harus pandai-pandai mencari informasi soal unit properti yang akan mereka beli.

Meskipun ia mengatakan faktanya selama ini 70% informasi dikuasai oleh pengembang, sementara konsumen berada dalam posisi yang lemah. Kalau sudah begini, konsumen yang ingin membeli dengan tujuan di luar gaya-gayaan atau prestisius harus lihai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di bisnis properti itu 70% informasi ada pada penjual sisanya konsumen meraba-raba saja. Misalnya kita nggak pernah tahu kualitas pondasi, termasuk apakah itu masuk daerah pengembangan atau tidak," katanya.

Ia menambahkan fenomena menggoreng harga jual semahal-mahalnya dilakukan pengembang secara langsung akan memakan 'korban'. Biasanya proses demikian tak akan bertahan lama, karena pada akhirnya harga properti akan terkoreksi menuju harga yang sewajarnya.

"Nggak akan bertahan lama gelembung itu, bisa saja tapi nggak tahan lama," katanya.

Untuk itu ia menyarankan kepada konsumen harus benar-benar melakukan pembandingan harga agar tak kecele. Salah satunya dengan cara memanfaatkan jasa broker properti, karena biasanya broker akan memberikan perbandingan.

"Kadang-kadang lewat broker lebih aman akan diberikan 5-8 pilihan, jangan mencari sendiri, meski ada biaya untuk broker, dari pada kita kejeblos," katanya.

Ruslan menambahkan secara bisnis, pricing di penjualan properti juga dipengaruhi oleh keunikan yang ditawarkan oleh pengembang bagi produknya.

Maka konsumen lah yang menjadi penentu. Pasalnya, banyak juga konsumen yang memang mengejar aspek seperti pertimbangan lain di luar harga seperyi Feng Shui dan lainnya, sehingga tak terlalu melihat harga apalagi untuk segmen masyarakat kelas atas.

"Properti natural bisnisnya seperti itu, natural bisnisnya tidak efisien. Pricing-nya tidak efisien, biasanya yang mengoreksi adalah broker," katanya.

Sebelumnya Indonesia Property Watch (IPW) mengingatkan agar masyarakat tak terjebak dengan penawaran harga jual properti seperti perumahan yang nilainya sangat fantastis. Harga-jual yang terlalu tinggi dengan iming-iming kawasan strategis, belum menjamin gainnya sesuai yang diharapkan bahkan bisa-bisa nilai properti di kawasan itu mendekati harga jenuh (over value).
(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads