Menurut Ketua DPP Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesa (Apersi) Eddy Ganefo, pada tahun 2012 diperkirakan anggotanya mampu menghadirkan 80.000 rumah yang berhak mendapat FLPP.
"Suplai tadinya bisa mencapai 80.000. Akan turun 50%, bahkan prediksinya saya bisa drop menjadi 30.000," ungkapnya di Jakarta, Jumat (20/1/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun rencana permintaan rumah ini melalui FLPP semakin tidak jelas karena berpotensi tidak terserap pasar. Hal ini karena MBR tidak mungkin membeli dengan mengikuti suku bunga konvensional. "Bandung itu 2.100 rumah per bulan. Bulan ini saja 8.000 rumah," tegasnya.
Hingga mendekati akhir Januari 2012 ini kementerian perumahan rakyat dengan bank pelaksana program FLPP belum juga menemui kesepakatan soal komposisi dana penyertaan yang menentukan tingkat suku bunga FLPP.
Pemerintah menghendaki penurunan suku bungan kredit FLPP hingga 5-6% dari kesepakatan tahun lalu yang mencapai 8,15%,dengan alasan mulai luruhnya suku bunga kredit perumahan komersial lainnya.
(wep/hen)











































