Bagi perseroan, bunga yang diinginkan Menteri Kementerian Perumahan Rakyat Djan Faridz sebesar 5%-6% akan merugikan BTN karena banyak risiko yang harus ditanggung. Penawaran suku bunga FLPP yang BTN tawarkan sekitar 7,75%.
"Dengan porsi pemerintah bank tetap 60:40 bunga dari kita 7,75%. Kalau porsinya berubah menjadi 50:50 tentu akan lebih besar (bunganya)," kata Direktur Utama BTN, Iqbal Latanro di Jakarta, Selasa (31/1/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin karena pengetahuan kami luas, buat kami hati-hati. Kami tidak bisa menjalankan bisnis kalau rugi. Itu sulit. Kita punya data, tahun lalu dari bank penyalur berapa yang daftar. Dan realisasinya BTN tetap terbesar," tambahnya.
Dari realisasi FLPP 2010-2011, BTN adalah bank penyaluar dengan jumlah terbesar. Pada KPR konvensional, perseroan berhasil menyelesaikan akad KPR 114.235 unit senilai Rp 3,81 triliun. KPR syariah BTN 6.184 unit senilai Rp 222,32 miliar.
Perbankan lainnya tergolong kecil. Ambil contoh Bank Bukopin yang hanya menyalurkan FLPP senilai Rp 7,3 miliar. Kemudian BNI hanya Rp 3,42 miliar.
Seperti diketahui, BTN adalah bank penyalur FLPP yang mengajukan bunga paling mahal sebesar 8,55%. Bahkan setelah pemerintah menghapus beban asuransi kepada masyarakat berperngasilan rendah (MBR) bunga BTN tetap paling tinggi 8,22%.
Bunga kredit rumah BTN jauh diatas penawaran bank BUMN lain. Misalkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) menawarkan bunga FLPP 7,12%, sedangkan BNI 6,35%. Sementara itu, n dalam perjanjian kerjasama operasional (PKO) FLPP baru bank penyalur harus mengikuti kehendak pemerintah, Yakni bunga FLPP berada di kisaran 6%.
Tahun ini Kemenpera menargetkan penyaluran FLPP kepada 200.000 unit rumah. Angka ini naik dari target sebelumnya di 170.000 rumah.
(wep/hen)











































