Hal ini disampaikan Hatta menanggapi adanya perbedaan pandangan antara Kementerian Perumahan Rakyat dan beberapa bank penyalur Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) seperti Bank Tabungan Negara (BTN).
"Kalau pembiayaan perumahan itu kan harus kita lihat, kalau masyarakat kita yang rendah sebaiknya itu harus dicarikan suatu skema pembiayaan yang tidak memberatkan, lihat dong kalau rumah tipe 36 itu jangan disamakan bunganya dengan rumah-rumah mewah, nggak bisa," ujarnya saat ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (6/2/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah disini harus dicarikan skema yang baik, bagaimana me-mix, agar supaya ada secara tidak langsung tersubsidi bunganya menjadi drop. Itu kan yang penting," tandasnya.
Seperti diketahui program subsidi perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) melalui skim fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) mandeg di tahun kedua semenjak di gulirkan. Bank penyalur seperti BTN enggan menurunkan bunga KPR bagi penerima FLPP hingga 5-6% seperti yang diminta kementerian perumahan rakyat.
(nia/hen)











































