Seperti diketahui, 2011 lalu BTN memang mengeluarkan obligasi atau surat utang sebesar Rp 2 triliun, yang bunganya ditetapkan sebesar 9,5%. Surat utang ini berjangka waktu 10 tahun, yang diantaranya dipakai untuk pembiayaan FLPP. BTN juga merupakan perusahaan yang telah melantai di bursa sebagai perusahaan terbuka (Tbk).
Direktur Utama BTN Iqbal Latanro mengatakan kondisi tersebut membuat investor 'meriang'. Apalagi belakangan ini semakin gencar diberitakan perseteruan antara BTN dengan pemerintah atau kementerian perumahan rakyat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sampai saat ini BTN merupakan bank penyalur FLPP yang mengajukan bunga paling mahal yaitu 8,55%. Bahkan setelah pemerintah menghapus beban asuransi kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), bunga BTN tetap paling tinggi 8,22%. Sementara pemerintah menginginkan bunga FLPP lebih rendah sampai dikisaran 7% atau bisa dibawahnya.
Tawaran bunga KPR BTN untuk program FLPP jauh di atas penawaran bank BUMN lain. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menawarkan bunga FLPP sebesar 7,12%, sedangkan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menawarkan 6,35%.
Iqbal menambahkan, bunga yang diinginkan Menteri Kementerian Perumahan Rakyat Djan Faridz sebesar 5%-6%, akan merugikan BTN karena banyak risiko yang harus ditanggung. Penawaran suku bunga FLPP yang BTN tawarkan sekitar 7,75%.
"Dengan porsi pemerintah bank tetap 60:40 bunga dari kita 7,75%. Kalau porsinya berubah menjadi 50:50 tentu akan lebih besar (bunganya)," tegasnya.
Menurut Deputi Perumahan Formal Kementerian Perumahan Rakyat Pangihutan Marpaung, ngototnya BTN disebabkan selama ini BTN menguasai pasar terutama kredit perumahan subsidi. Kemenpera bahkan menantang balik BTN, bahwa penyaluran FLPP 2012 tetap jalan tanpa atau dengan BTN.
(wep/hen)











































