Djan Faridz Ngaku Prioritaskan Bedah Rumah daripada Kredit FLPP

Djan Faridz Ngaku Prioritaskan Bedah Rumah daripada Kredit FLPP

- detikFinance
Jumat, 10 Feb 2012 11:40 WIB
Djan Faridz Ngaku Prioritaskan Bedah Rumah daripada Kredit FLPP
Jakarta - Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz mengaku mendahulukan program bedah rumah (swadaya) bagi masyarakat miskin selama 100 hari masa kerjanya.

Selama ini ia fokus pada pengadaan rumah swadaya, bukan rumah segmen masyarakat berpenghasilan rendah dengan fasilitas fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) berpenghasilan tetap Rp 2,5 Juta-4,5 juta.

"Bagi saya penting adalah swadaya. Bedah rumah. Karena ini masyarakat miskin. Namanya saja Menteri Perumahan Rakyat. Kalau tidak berbuat sesuatu untuk rakyat, saya senang untuk mundur," kata Djan di kantornya, Jakarta, Jumat (10/2/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Target FLPP 1,35 juta rumah. Kalau rumah swadaya 1,25 juta. Seksi mana? Seksi swadaya," tegasnya.

Rumah swadaya bagi bos Tanah Abang ini jadi prioritas. Apalagi mereka yang berada di bawah garis kemiskinan. "Pemerintah berbuat sesuatu untuk masyarakat yang tidak mampu. Animo rakyat untuk dapat hak besar, Pemda semakin berpihak," ungkapnya.

"Yang membutuhkan ulurkan tangan saya adalah hidup dibawah garis kemiskinan. Itu dulu yang kita urus. Tiga bulan ini kami muter keliling," tegas Djan.

Tahun ini Kemenpera menargetkan pembangunan rumah swadaya sebanyak 60 ribu rumah. Ini terdiri dari 40 rumah yang diperbaiki dan 20 rumah baru. Djan mengaku program rumah swadaya sangat diminati rakyat.

Atas dasar ini, Kemenpera ingin meminta tambahan anggaran dari Kementerian Keuangan sebesar Rp 1,3 triliun. "Anggaran tambahan, makan kita dapat meningkatkan pembangunan 250 ribu rumah perbaikan. Dananya kecil kok," ungkap Djan.

"Kalau ini diperhatikan, maka ada 250 Kepala Keluarga (KK) tertolong. Dengan tiga orang satu KK, maka 750 ribu rakyat tertolong," katanya.

Seperti diketahui selam 100 hari masa kerjanya, Djan Faridz memang masih menyisakan pekerjaan rumah soal menyelesaikan kisruh bunga KPR subsidi FLPP. Ia meminta bank penyalur KPR subsidi seperti BTN harus menurunkan suku bunga hingga 5-7%. Kredit segmen ini memang diprioritas untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tetap dengan kisaran Rp 2,5-4,5 juta/bulan.

(wep/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads