Direktur Utama PT Riscon Realty, Ari T. Priyono menerangkan, saat pemerintah membahas kenaikan BBM telah terjadi penyesuaian harga semen dan besi pada kisaran 10%. "Pemerintah harusnya agak bisa. Jangan isu doang, jadi langsung naiknya sekali saja," ujar Ari saat berbincang dengan detikFinance, Minggu (11/3/2012).
Pengembang kecil seperti Riscon atau yang lain, lanjut Ari, tidak dapat memborong bahan bangunan untuk menekan biaya produksi yang membengkak April mendatang. Pasalnya pembangunan rumah sederhana dilakukan oleh kontraktor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal yang sama disampaikan Michaeal Kurniawan, Sekretaris Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesa (Apersi) DPD Banten. Menurutnya, kenaikan bahan bangunan akan menular kepada harga jual hunian, meski persentasenya tidak sebesar kenaikan harga BBM.
"Pasti, saat harga bahan bangunan naik otomatis naik. Apalagi karyawan kita, kebutuhannya naik akibat harga bahan pokok yang sudah naik. Semen saja sudah naik per sak dari Rp 57 ribu menjadi Rp 60 ribu-an. Kita masih menghitung ulang, berapa overhead yang kita harus tanggung," tegasnya.
Sebelumnya, Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Setyo Maharso juga menegaskan akan menaikan harga jual rumahnya. Pengembang masih menantikan pergerakan harga bahan bangunan stabil. Setelah itu, baru terlihat berapa peningkatan harga rumah baru tersebut.
"Nanti kalau sudah stabil, baru bisa kita hitung. Selama ini untuk semen dan besi paling pengaruh pada high risk (apartemen, ritel, hotel). Sedangkan komponen biaya transportasi yang paling mempengaruhi harga jual real estate," tuturnya waktu itu.
(wep/hen)











































