Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz punya kisah sendiri soal awal ia bisa menemukan sosok Umar Sumadi. Hingga buah karya Umar muncul di pelataran kantor kementerian perumahan rakyat sebagai rumah murah percontohan.
"Pak umar ini merupakan orang yang dididik sejak zamannya Pak Akbar Tanjung (mantan menpera). Dia luar biasa loh, saya nemuin dia itu di Palembang. Itu dua bulan yang lalu. Itu awal jadi menteri saya keliling, karena saya tertantang untuk bikin rumah Rp 25 juta karena bapak presiden (SBY) bikin rumah minimal Rp 25 juta," kata Djan saat ditemui di kantornya, Rabu (14/3/2012)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terus bagaimana caranya bikin rumah harganya Rp 25 juta, terus setelah jadi rumahnya malah orang pada nggak percaya," katanya
Umar Sumadi, merupakan pemilik hak paten intelektual rumah cetak yang diberinama Raswari. Nama rumah ini berasal dari nama ayahnya Umar, yang dulu selama puluhan tahun bekerja sebagai kontraktor perumahan.
Umar membuka kerjasama permintaan pembangunan rumah ini dengan pengembang maupun perorangan secara parsial alias satu per satu.
"Raswari itu nama ayah saya, saya bekerja dulu sama beliau, beliau itu guru lah bagi saya," ujar Umar beberapa waktu lalu.
Saat ini Umar kebanjiran pemesanan dari kalangan pengembang untuk membangun rumah murah tipe 36 ini. Permintaan banyak berasal dari Jawa maupun Sumatra dan Nusa Tenggara, misalnya di Palembang ia sudah menyelesaikan 300 unit dari total rencana pembangunan 4000 unit.
"Untuk tipe 36 untuk harga bangunannya saja hanya Rp 25 juta, itu tanpa plafon, belum dicat dan tanpa lantai keramik," katanya.
Selain di Palembang, Umar juga menuturkan mulai April tahun ini, akan dibangun 7.800 unit rumah murah di Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama pemerintah setempat. Ia juga sedang melakukan pembicaraan dengan pengembang-pengembang di Cianjur, Sukabumi, Bandung dan lainnya yang sudah mendapat izin dari kemenpera.
"Tiap jam saya didatengin, minta formulir, nanya-nanya harga dan macam-macam, tapi pengembang yang dateng tadi dari Bandung, Cianjur, Sukabumi," katanya.
Menurutnya rumah buatannya ini juga bisa dibangun di Jabodetabek dengan harga yang terjangkau bisa di bawah Rp 70 juta (tergantung harga tanah). Rumah ini juga merupakan rumah yang dirancang bisa bertahan terhadap gempa. Untuk dinding sudah memakai adonan beton dengan komposisi semen dan pasir 1:4.
"Ini rumah mitra gempa, bukan anti gempa. Dulu di Aceh saya buat rumah ini sebelum gempa, pas ada gempa, dia nggak ada retak-retak," katanya.
Melalui bendera PT Grand Wijaya Persada Holding Company, ia siap melayani permintaan pembangunan rumah murah ini. Namun khusus untuk permintaan secara perorangan atau parsial, baru akan dibuka pendaftarannya pada pertengahan April 2012 nanti.
"Rencananya pertengahan April sudah mulai dibuka untuk memesan (perorangan) di daerah mana pun asal tanahnya ada, ada akses masuk mobil. Lama pengerjaan hanya 4-6 hari. Saya sudah 23 tahun bikin rumah ini dulu namanya RSS (rumah sangat sederhana)," katanya.
(feb/hen)











































