Faisal Basri: Ini Langkah Masyarakat Jakarta Atasi Kemiskinan

Faisal Basri: Ini Langkah Masyarakat Jakarta Atasi Kemiskinan

- detikFinance
Rabu, 28 Mar 2012 14:30 WIB
Faisal Basri: Ini Langkah Masyarakat Jakarta Atasi Kemiskinan
Jakarta - Masyarakat Jakarta sering terpinggirkan oleh pengembang besar dengan menggusur rumah satu-satunya, dengan pola ganti rugi. Padahal dengan asetnya ini, keuntungan bisa didapat secara berlipat. Caranya, kumpulan lahan dikelola secara profesional untuk dijadikan kawasan terintegrasi. Lahanpun tidak dijual, melainkan sistem sewa kepada pengembang.

Langkah ini, menurut Ekonom Faisal Basri membuat masyarakat Jakarta tidak miskin dan tidak harus tinggal jauh dari ibukota.

"Jadi ada pemukiman kumuh diubah kembangkan menjadi kawasan. Nanti kumpulan tanah masyarakat dikelola oleh PT (Perusahaan Terbatas) oleh manajemen yang profesional," kata Faisal di Jakarta, Rabu (28/3/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai ilustrasi, terdapat kawasan kumuh seluas 1 ha yang dimiliki masyarakat. Oleh perusahaan tersebut, lahan ini direnovasi. Masyarakat mendapat hunian lebih layak pada lahan 1/4 ha.

"Renovasi tetap sama, lahannya 1/4 ha. Namun diangkat empat lantai (pendirian bangunan empat lantai)," ucapnya.

Kemudian, 1/4 ha lain berfungsi sebagai kawasan terbuka hijau. "1/4 ha lagi untuk fasilitas sosial dan fasilitas umum, termasuk kegiatan ekonomi," tegas Faisal.

Sisa lahan, baru berfungsi sebagai pemukiman mewah macam apartemen dan pusat perbelanjaan. Lahan seluas 1 ha ini tetap menjadi milik masyarakat asli. Bukan dijual kepada pengembang.

"Selama ini sistemnya gusur. Pengembang ganti rugi Rp 500 juta, namun masyarakat tinggal di Bojong. Bangun rumah di Bojong habis Rp 300 juta, dan sisanya untuk naik haji Rp 200 juta. Lalu uangnnya habis, dan untuk kerja di Jakarta mereka harus keluar ongkos yang jauh lebih mahal," jelasnya.

"Padahal pengembang bisa sulap aset itu dengan nilai jauh lebih tinggi. Kenapa tidak dikelola sendiri oleh masyakarat. PT dimiiliki 25% oleh masyarakat, sisanya oleh Pemda. Jadi rakyat memiliki aset di tengah kota. Milik, dan harga (tanah) terus naik terus," imbuhnya.


(wep/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads