Namun tahukah Anda, pengembang atau konsumen cenderung menghindari menjual atau membeli blok rumah atau apartemen bernomor 4 dan 13.
Menurut salah satu pengembang di Tangerang, Michael Kurniawan, unit yang ditawarkan dengan nomor 4 atau 13 relatif tidak disukai konsumen. Ada kepercayaan masyarakat Tionghoa nomor 4 berarti tsi atau mati. Pun demikian dengan 13 karena memiliki unsur yang serupa.
"(Konsumen) nggak ada yang mau. Hingga kita jual pun sulit," kata Michael yang juga menjabat Sekretaris Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Banten ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal yang sama disampaikan Marketing PT Bukit Jonggol Asri, Wulan. Pada perumahan Sentul Nirwana yang ia jajakan, praktis tidak ada blok bernomor 4 dan 13. "Rata-rata memang semuanya seperti itu. Konsumennya sulit," jelasnya.
Penomoran pada blok perumahan juga berlaku pada saat rumah berdiri dan dihuni konsumen. Nomor 4 dan 13 akan dilompati pada urutan alamat pada salah satu perumahan.
"Jadi kalau 1, 2,3 kemudian jadi 5. Dilongkap saja," tegas Michael.
Ini tidak hanya terjadi di perumahan. Jenis apartemen juga berlaku sama. Seperti penomoran lantai dan blok unit nyaris tidak ditemukan angka-angka 4 dan 13. Termasuk dalam penomoran lantai pada lift untuk gedung apartemen dan lainnya.
(wep/hen)











































