Sebagai proyek awal, akan dipilih Kalimantan Timur, nama kawasannya Trans Kalimantan Economic Zone. "Kalau kita bicara ada industri hulu dan hilir, dan Kaltim menjadi tempat yang punya potensi. Karena disana ada batubara, minyak, gas," kata CEO Bakrie Eko Investa, Hiramsyah S. Taib di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Kamis (7/6/2012).
Hiramsyah menjanjikan kawasan industri yang ramah lingkungan dengan fasilitas dan infratruktur yang memadai. Nilai investasi Rp 10 triliun siap digelontorkan perseroan. Modal yang tidak sedikit ini bersumber dari internal grup Bakrie bersama mitra strategis yang sedang perseroan jajaki.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mitra ada yang masuk sebagai pemegang saham, atau bangun smelternya," tuturnya.
Kabar yang beredar menyebut, salah satu mitra pembangun smelter berasal dari China. Namun Hiramsyah enggan berkomentar. "Terlalu dini untuk ngomong. Yang jelas sudah ada yang MoU dan itu dari Asing," papar Hiram.
Trans Kalimantan Economic Zone targetnya akan efektif beroperasi akhir 2014. Artinya kawasan industri ini menjadi peluang usaha baru yang 'seksi' dari grup Bakrie. Pasalnya pada tahun yang sama pemerintah sama sekali melarang barang tambang Indonesia diekspor mentah-mentah ke luar negeri yang bertujuan agar industri hilirisasi tambang dalam negeri bisa berkembang.
(wep/hen)











































