"Tidak dikatakan jenuh juga untuk Bali karena ada naik dan turun. Memang penambahan suplai (hotel) nggak seimbang," kata Corporate Director of Sales, Best Western International Area Development Office Indonesia, Bina Sembiring saat berbincang dengan detikFinance, Senin (9/7/2012).
"Akibatnya diskon rate karena suplai tadi. Penambahan konsumen di Bali sekitar 30% per tahun, tapi hotel (penambahan) 50% per tahun," jelas Bina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para investor, diakui Bina, memiliki kepercayaan diri tinggi bisnis hotel di Bali seakan tak akan surut. Namun saat ini pasar sedikit jenuh, hingga perlu ada penyesuaian tarif.
"Mereka terlalu optimistis karena Bali punya bandara baru, dan menjadi tempat pertemuan atau conference skala internasional. Tapi industri hotel harus hati-hati," tambahnya.
Seperti diketahui, Ibis melalui operator hotel internasional Accor juga diketahui memasang tarif promo untuk hotel barunya di Bali, yakni Rp 575.000 net per kamar per malam, termasuk sarapan.
Lalu, Alam Sutera Realty, pengembang skala menengah-atas juga tak mau ketinggalan. Berdasarkan informasi, manajemen tengah menyiapkan kondotel baru dengan nilai investasi US$ 19,5 juta.
Bali memang menjadi magnet wisatawan. Berdasarkan catatan BPS, hingga Mei 2012 ada 650,9 ribu wisman atau turis asing yang datang ke pulau Dewata ini. Turis domestik pun menjadikan Bali sebagai tujuan favorit.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu menyebut, turis lokal datang ke Bali minimal dua kali dalam setahun. Masyarakat pun punya anggaran khusus wisata, yang jumlahnya Rp 15 triliun per tahun.
(wep/dnl)











































