Investor Mal Keluhkan Mafia Tanah

Investor Mal Keluhkan Mafia Tanah

Rista Rama Dhany - detikFinance
Sabtu, 28 Jul 2012 18:33 WIB
Investor Mal Keluhkan Mafia Tanah
Jakarta - Para investor mal mengeluhkan tingginya harga tanah dalam setiap pembangunan mal. Ini terjadi karena para mafia tanah yang menjadi provokator sehingga harga tanah melonjak hingga 200%.

"Kita selalu kesulitan, ketika menetapkan suatu lokasi pembangunan mal, sudah menguasai sebidang tanah, tiba-tiba masuk mafia tanah dan menjadi provokator dan membuat harga tanah naik berlipat-lipat bahkan sampai 200%," ujar Direktur Pakuwon Group Stefanus Ridwan ketika ditemui di pembukaan Mal Kota Kasablanka di Jalan Casablanca, Jakarta Selatan, Sabtu (28/7/2012).

Dikatakan Stefanus, para mafia ini selain merusak tanah juga kadang berhasil menguasai tanah-tanah warga yang berhasil dibeli.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Akibatnya saat kita mau beli, harga langsung melonjak tajam. Dari biasanya harga Rp 3 juta per m2 ketika dikuasai mafia langsung melnjak Rp 7 juta-Rp 15 juta per meter persegi," ungkap Stefanus.

Kondisi ini menjadi kendala pembangunan suatu mal. Karena harga yang tidak pasti. Bahkan menurut Stefanus, tidak hanya masalah mafia tanah, harga bahan bangunan juga menjadi masalah sendiri.

"Harga bahan bangunan, semen, besi, baja, pasir dan lainnya naiknya turunnya harga terjadi setiap saat," ujarnya.

Selain itu, ujar Stefanus, para investor mal juga kesulitan mencari kontraktor pembangunan mal yang jumlahnya saat ini lebih sedikit dibandingkan jumlah proyek mal dan properti yang ada.

"Dulu kita gampang cari kontraktor, sekarang kita yang berburu kontraktor dan merayu agar kontraktor mau mengerjakan proyek kita, ini karena jumlah kontraktor sedikit sekali dibandingkan banyaknya proyek," katanya.

Apalagi pada bulan puasa seperti ini, kata Stefanus, jumlah pekerja konstruksi makin sedikit. Tiba-tiba mereka bisa memutuskan pulang kampung.

"Makanya pada pembukaan mal Kota Kasablanka ini banyak tenant yang tidak selesai target pengerjaannya. Ini karena banyak pekerja yang pulang kampung, kerja setengah hari," keluhnya.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads