Senior Associate Director Research & Advisory Cushman & Wakefield Indonesia Arief Rahardjo menerangkan, hingga akhir Juni 2012, tingkat hunian pusat perbelanjaan mencapai 81,4%. Ini artinya sekitar 18,6% ruang mal belum terhuni. Angka tingkat hunian itu memang sudah sedikit mengalami kenaikan.
"Dengan hampir tidak ada pasokan baru yang masuk ke pasar dan dibukanya beberapa penyewa besar pada beberapa pusat perbelanjaan yang sudah ada, ini menaikkan tingkat hunian menjadi 81,4%," kata Arief dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, seperti dikutip Minggu (29/7/2012).
Data Cushman & Wakefield menjabarkan ruang ritel Jakarta terbagi dua, sewa dan milik (strata-title). Untuk tingkat hunian pusat perbelanjaan sewa hingga Juni mencapai 87,6% atau naik 0,7% dari triwulan sebelumnya. Sedangkan pusat perbelanjaan milik net take-up mencapai 67,7%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasokan hanya datang dari Jembatan Multi Guna Senen Jaya (ruang ritel sewa jangka panjang) yang baru diresmikan triwulan II-2012.
"Pasokan tambahan ini membawa pasokan kumulatif ruang ritel di Jakarta menjadi 3.592.300 m2, yang terdiri dari 2.466.500 m2 (68,7%) pusat perbelanjaan sewa dan 1.125.800 m2 (31,3%) pusat perbelanjaan strata-title sampai akhir Juni 2012," kata Arief.
Harga sewa dasar (base rental) pusat perbelanjaan di Jakarta hingga triwulan II-2012 masih setia pada level Rp 614.400 per m2 per bulan. Tarif ini relatif tidak naik karena belum adanya pasokan baru yang masuk ke pasar.
Meski harga sewa dasar pusat perbelanjaan tidak naik, namun tidak demikian dengan biaya servis.
"Service charge mengalami sedikit kenaikan 0,9% (dibandingkan triwulan sebelumnya) menjadi Rp 97.500 per m2 per bulan," tutur Arief.
(wep/hen)











































