Bos BI: Harga Rumah dan Tanah Naiknya Tinggi Sekali

Bos BI: Harga Rumah dan Tanah Naiknya Tinggi Sekali

Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Senin, 27 Agu 2012 13:40 WIB
Bos BI: Harga Rumah dan Tanah Naiknya Tinggi Sekali
Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution percaya kebijakan untuk menaikkan uang muka atau Loan to Value (LTV) kredit perumahan dan kendaraan bermotor justru akan menyehatkan pertumbuhan industri. Bank sentral pun sudah mengetahui sejak lama ada kenaikan yang tidak lazim pada harga rumah dan tanah.

"Kita rem (kredit) sedikit di real estate dengan memberlakukan loan to value ratio lebih besar. Kita tekan sedikit. Nggak akan banyak dampaknya," jelas Darmin usai Halal Bihalal di kantornya, Jakarta, Senin (27/8/2012).

Darmin pun mengakui, selama beberapa periode sebelumnya harga rumah dan tanah menunjukkan kenaikan gila-gilan. Atas dasar itulah, BI memperlakukan kenaikan uang muka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita sejak beberapa bulan lalu tahun ini pertumbuhan real estate cepat sekali. Harga rumah secara umum, tanah termasuk di kawasan industri, naiknya tinggi sekali. Jadi ya itulah persoalan yang ada, tapi mari kita hadapi," paparnya.

Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI, Perry Warjiyo sebelumnya menyebut, peraturan pembatasan uang muka yang naik menjadi 30% menjadikan bisnis pembiayaan menjadi lebih terjaga.

Aplikasi KPR dalam dua bulan terakhir diketahui juga menurun. Namun belum dapat dipastikan penurunan dikarenakan aturan LTV 30%."Penurunan yang kemarin terjadi karena siklus Lebaran saja. Aturan LTV belum bisa dikatakan mempengaruhi (permintaan KPR)," kata VP Consumer and Retail Landing PT Bank Negara Indonesia Tbk, Indrastomo Nugroho kemarin.

Namun secara keseluruh, pertumbuhan kredit industri perbankan masih sehat meski mencapai titik tertinggi 25%-26% per tahun. Perkiraan pertumbuhan di 2012 ini lebih tinggi dibandingkan realisasi pada rata-rata tiga tahun lalu, 23%.

"Itu diukur dengan tingka kredit dengan negara manapun. Ini tinggi sekali. Sehingga orang banyak mengatakan ini ketinggian. 'Ini tidak bisa terus-terusan begini. Nanti overheating'. Tapi pertumbuhan yang 26% ini untuk investasi bukan konsumsi atau modal kerja," tutupnya.

(wep/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads