Stefanus menambahkan ia berharap dengan adanya gubernur DKI Jakarta yang baru, ada perubahan persepsi terhadap mal. Ia meminta Jokowi bisa bertindak lebih jernih dalam menilai pusat belanja di Jakarta.
"Kalau yang lalu-lalu itu, yang disalahkan adalah mal, kesalahan soal macet. Biasanya semuanya melihatnya mal itu barang yang haram, harapan kita dengan gubernur baru bisa tahu keadaan tidak hanya dari katanya, tapi bisa melihat sebenarnya, dengan lebih jernih," kata Ketua Umum APPBI Stefanus Ridwan kepada detikFinance, Jumat (21/9/2012)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama ini katanya mal biang kerok, jalur hijau, sumber matinya pedagang kecil. Justru kita yang meramaikan pedagang kecil," katanya.
Stefanus menegaskan keberadaan mal di Jakarta tidak bisa dipungkiri berperan dalam perputaran ekonomi daerah khususnya DKI Jakarta. Selain menyerap tenaga kerja, mal juga sebagai sumber pemasukan asli daerah.
"Kalau tak ada dari perdagangan dari mana, menurutnya saya semakin banyak pusat belanja, perputaran lebih kenceng," katanya.
Mengenai usulan gubernur DKI terpilih Jokowi yang mengusulkan agar mal di Jakarta memperbanyak ornamen kebudayaan Betawi, menurut Stefanus pemikiran itu patut direspons. Namun baginya pembangunan mal berkonsep Betawi tak bisa diterapkan seluruh mal dengan ornamen yang sama.
"Kalau satu dua yang kayak Betawi kental banget lebih moderen, saya kira menarik, tapi kalau semua mal ya bosen juga, harus ada pertimbangan yang matang," katanya.
Sebelumnya Jokowi berharap Jakarta bisa menjadi pusat kebudayaan Nusantara, dengan Betawi sebagai tuan rumahnya. Selanjutnya akan ada perda mengenai perlindungan budaya sehingga sanggar-sanggar seni bisa hidup. Selain itu, gedung, kantor, dan mal harus mengangkat ornamen Betawi yang dominan.
"PNS harus pakai pakaian Betawi pada hari Rabu atau Kamis," kata Jokowi.
(hen/dnl)











































