Menurut Head of Retail and Strategic Consulting Jones Lang LaSalle Vivin Harsanto, kawasan sekitar Cempaka Putih masih memungkinkan dibangun kawasan terpadu. Terdapat dua lahan yang cukup luas dan bisa dikembangkan guna memenuhi pasokan di Ibukota Jakarta.
"Mixed use jadi pilihan karena menggabungkan semua dan aktivitas dalam satu tempat. Dan menurut riset kami, kini cenderung sudah bergeser ke pinggiran karena harga di CBD sudah mahal," kata Vivin di Jakarta, Senin (19/11/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kita pantau dari Map, ada dua lokasi yang cukup besar," tambahnya.
Berdasarkan cetak biru (blue print) perencanaan tata kota DKI Jakarta, Vivin menjelaskan, simpang Cempaka Putih akan dikembangkan 'Semanggi Kecil' demi mengurangi kepadatan.
"Akan ada Semanggi Kecil, itu RTRW (rencana tata ruang dan wilayah) 2011-2030 dengan perencanaan," tuturnya.
"Cempaka Putih pun masih butuh commercial office, yang selama ini lebih kepada owner office. Masih bisa berkembang ke sekitarnya, seperti Sunter, Pulomas juga masih banyak lahan kosong," tegas Vivin.
Associate Director Research Jones Lang LaSalle Indonesia, Anton Sitorus memang menegaskan, konsep mixed use menjadi paling ideal di tengah kepadatan kota dan masalah kemacetan yang ada di depan mata.
(wep/dnl)











































