Menurut CEO Leads Property Hendra Hartono, rencana Pertamina ingin membangun gedung tinggi sebagai kantor pusat mereka merupakan hal yang wajar. Hendra melihat, Pertamina Tower akan digunakan sendiri oleh perseroan dan anak-anak usahanya.
"Soal Pertamina Tower itu sudah lama, setidaknya 6 tahun lalu. Sudah lama mereka ingin punya gedung itu, kalau sekarang mulai direalisasikan karena ekonomi Indonesia terus membaik, itu nggak heran," kata Hendra kepada detikFinance, Jumat (7/12/2012)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini juga kebanggan buat mereka, itu wajar-wajar saja, kita tahu di Malaysia ada Petronas Tower," katanya.
Ia juga mengatakan selain Pertamina, ada beberapa BUMN lainnya yang menyiapkan gedung-gedung pencakar langit serupa. Sebelumnya sempat ada kabar Adhi Karya akan membangun tower 100 lantai, walaupun akhirnya dibatalkan, lalu ada PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) mau membangun tower.
"Ini juga sebagai simbol, banyak BUMN lainnya juga membuat gedung mereka masing-masing," katanya.
Rencana pembangunan gedung pencakar langit milik PT Pertamina (Persero), atau Pertamina Tower mendapat dukungan penuh Presiden SBY. Bahkan orang nomor satu di Indonesia itu meminta agar pembangunan menara selesai dalam waktu 18 bulan atau 1,5 tahun.
"Sesuai arahan Presiden SBY, presiden meminta penyelesaian proyek ini selama 18 bulan," kata Dirut Pertamina Karen Agustiawan.
Pertamina Tower akan dibangun dikawasan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, mencakup 80 lantai dengan biaya US$ 850 juta atau kurang lebih Rp 8 triliun.
Pertamina Tower nantinya akan menjadi pusat bisnis, pameran dan lainnya, juga akan mengintegrasikan seluruh anak perusahaan Pertamina yang saat ini tersebar lokasi kantornya.
Menara tersebut akan menjadi icon dan representasif PT Pertamina untuk menuju sebagai perusahaan oil company dengan visi World Class Energy Company dan Asia Energy Champion pada 2025.
(hen/dnl)











































