Berdasarkan Survei Perkembangan Properti Komersial Bank Indonesia (BI) triwulan IV-2012, pada akhir tahun lalu di Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi (Jabodebek) pasokan ruang ritel jual (mal) di kawasan tersebut mencapai 1.742.795 meter persegi atau naik 1,23% dari beroperasinya Cikini Gold Centre seluas 21.213 meter persegi.
Dari pasokan 1.742.795 meter persegi tercatat 72,23% berada di Jakarta, sedangkan sisanya ada di Bogor, Depok dan Bekasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, pasokan ritel di Banten juga akan kena dampak dari terhentinya izin pembangunan mal di Jakarta.
"Isu masih diperpanjangnya moratorium pembangunan mal di Jakarta memberikan keuntungan sendiri bagi daerah pendukung sekitar Jakarta, termasuk Banten. Selain itu, peningkatan jumlah populasi dan konsumsi masyarakat juga akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan ritel di Banten," jelas survei tersebut.
Sedangkan untuk pasokan ritel sewa khususnya pada periode triwulan IV, cenderung relatif lambat. Jumlah pasokan ruang ritel tetap yaitu sebanyak 3.763.074 meter persegi. Tingkat hunian ritel sewa mengalami kenaikan 2,64% dan kenaikan tarif sewa sebesar 3,78%.
"Tarif sewa didorong karena kenaikan service charge sebesar 9,86% (qtoq). Namun pada periode mendatang kenaikan tarif sewa diperkirakan tak dapat dihindari lagi mengingat terbatasnya pasokan serta antisipasi kenaikan upah buruh dan tarif listrik," jelas survei tersebut.
Survei ini merupakan analisa triwulanan properti yang dilaksanakan sejak triwulan I-1996. Sejak triwulan I-2006, jumlah responden ditambah menjadi sekitar 745 perusahaan properti di Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi dan Banten (Tangerang, Serang dan Cilegon) dan 50 perusahaan di wilayah Bandung.
(hen/hen)











































