Di RI Bunga KPR di Atas 10%, di Malaysia Berapa Ya?

Tipu-tipu KPR Bunga Murah

Di RI Bunga KPR di Atas 10%, di Malaysia Berapa Ya?

- detikFinance
Jumat, 31 Mei 2013 14:41 WIB
Di RI Bunga KPR di Atas 10%, di Malaysia Berapa Ya?
Foto: dok.detikFinance
Jakarta - Bunga kredit di Indonesia termasuk untuk kredit kepemilikan rumah (KPR) masih cukup mahal, bunga pasar normal saat ini masih di atas 10%. Bagaimana kalau dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia?

Dikutip dari imoney, Jumat (31/5/2013), rata-rata bunga KPR di Malaysia per 22 Mei 2013 untuk tenor atau jangka waktu kredit 30 tahun, adalah di kisaran 4,2%-4,9%. Ini sangat jauh dari bunga di Indonesia yang di atas 10%.

Pada situs itu disebutkan, bank-bank di Malaysia juga seringkali menawarkan bunga KPR promo murah untuk nasabahnya. Bahkan ada penawaran bunga KPR 2% selama 3 tahun, yang ditawarkan beberapa bank di Malaysia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk Indonesia, tenor KPR paling lama adalah 25 tahun, inipun hanya diberikan oleh satu bank, yaitu PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN). Mahalnya bunga KPR di Indonesia disebabkan karena tingginya karena cost of fund (biaya dana) serta over head cost yang ditanggung oleh perbankan Indonesia. Biaya operasional masih tinggi perbankan masih mahal dan ini dibebankan pada besarnya bunga kredit yang ditanggung oleh nasabah.

Meskipun bunga acuan atau BI Rate saat ini hanya 5,75%, namun bunga KPR bisa mencapai 13%. Perbankan tidak bisa menjadikan BI Rate sebagai acuan. Sementara di Malaysia, dikatakan suku bunga dasar kredit adalah 2,4%, sementara bunga kredit ke nasabah adalah di kisaran 4,2%, atau tidak berbeda jauh.

Dari berbagai sumber yang dihimpun detikFinance di lapangan, suku bunga normal KPR saat ini memang masih di atas 10%. Untuk KPR berjangka waktu 1-5 tahun, bunganya di kisaran 11%. Sementara untuk 6-10 tahun, suku bunga normalnya 12%, dan untuk KPR 11-15 tahun, bunga normalnya 13%.

Sebelumnya, Gubernur Bank Sentral Malaysia Zeti Akhtar Aziz pernah mengatakan, tingkat bunga di Malaysia lebih murah karena inflasi yang rendah.
(dnl/dru)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads