Solusinya adalah pembangunan rumah vertikal, atau yang kerap disebut rusun, kondominium atau apartemen. Itu pun tak bisa dijangkau dengan harga di bawah Rp 100 juta. Paling tidak harganya bisa mencapai Rp 7 juta/meter persegi.
"Yang memungkinan dibangun rusun, harganya Rp 7 juta/meter persegi," kata Deputi Perumahan Formal Kementerian Perumahan Rakyat, Pangihutan Marpaung saat ditemui detikFinance selepas Rapat Dengar Pendapat Komisi V di Gedung DPR, Selasa (3/9/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awalnya, harga rumah bersubsidi pemerintah dibanderol Rp 88-95 juta. Menyusul kenaikkan harga BBM yang memicu naiknya harga bahan bangunan, pengembang pun mengusulkan untuk menaikkan harga rumah menjadi sekitar Rp 110 juta.
Namun, itupun bukan di Jakarta. Orang yang ingin membeli rumah dengan harga tersebut harus rela bergeser sedikit ke pinggiran kota Jakarta seperti Depok, Bogor, Bekasi atau kota di pinggiran Jakarta lainnya.
"Harga Rp 110 juta itu di luar Jakarta," lanjut Paul seraya berlalu.
Kembali lagi, solusinya ialah rusun. Seperti yang diprogramkan pemerintah untuk melanjutkan program 1000 tower sebagai salah satu solusi untuk menanggulangi backlog perumahan yang mencapai 14 juta hunian.
"Tahun ini ada 100 tower yang dibangun di seluruh Indonesia," ungkap Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz.
(zlf/ang)











































